Kamis, 11 Januari 2018

Iqra, Bacalah!


Aku memang jualan buku. Buku anak, buku pengasuhan, buku biografi, novel dan masih banyak lagi (ig: @rumahbukuapik). Tapi kali ini aku tidak sedang iklan atau promosi. Gambar ini murni buku koleksi pribadi, atau lebih tepatnya bukunya mas Agha. Agha aku kenalkan buku sedari kecil. Waktu masih di kandungan, selain Quran yang menjadi bacaan wajib, emaknya suka baca dongeng hasil dari searching di mbah gugel. Novel?? Jangan tanya ya. Itu salah satu hobi emaknya. Bahkan untuk pertama kalinya mas Agha jalan-jalan jauh ma ayah dan emaknya itu ke toko buku.
Tujuannya tentu saja agar mas Agha doyan dan hobi membaca. Karena buku adalah salah satu sumber ilmu. Jendela dunia. Apalagi islam, yang dengan jelas menyuruh umatnya untuk membaca. Bukan lagi tersirat, tapi tersurat bahkan menjadi ayat yang pertama kali diturunkan. Iqra, Bacalah!


Selain mengenalkan buku, bentuklah iklim membaca di sekitar anak. Bukankah anak adalah mesin foto copy terbaik, mister copast? Jika anak terbiasa dengan lingkungan membaca, Insya Allah mereka akan menyukai kegiatan membaca, karena memindainya langsung dari sekitar mereka. Jadi bagi para orangtua, biasakan diri juga untuk membaca, menjadi tauladan untuk anak. Terutama ibu, selain memberikan contoh, membaca menjadikan ibu semakin kaya ilmu, yang bisa dijadikan bekal untuk mendidik anak dan mengurus keluarga.

Dengan buku dan iklim membaca saja belum cukup ya bu ibu. Berusahalah menjadi pendongeng yang baik untuk anak-anak. Mendongeng atau berkisah bisa menghadirkan minat baca pada anak, mengemabangkan kemampuan bahasa, menambah kosakata, menanamkan nilai moral, menstimulasi daya imajinasi dan berpikir anak serta bisa memperkuat bonding orangtua dan anak. Banyak banget kan manfaatnya?

Aku bukan pendongeng yang baik, tapi berusaha terus belajar. Pengajar dongeng pertamaku adalah ibuku sendiri. Ibu memang tidak begitu hobi membaca, tapi beliau ahli dalam mendongeng. Kami, empat anaknya selalu menjadi konsumen utama beliau. Ibu dengan kepiawaiannya, mendongeng hampir tiap malam sebelum tidur. Ibu bukanlah pelahap kisah-kisah cinderella atau pinokio dan sejenisnya. Jadi dongeng yang disampaikan ke kami selain cerita para nabi adalah dongeng lokal seperti timun mas, ande-ande lumut, mbok rondo, batu menangis, malin kundang, dan masih banyak lagi. Satu hal yang menjadi ciri has ibu tiap mendongeng: selalu diakhiri dengan kalimat "nemu watu mentilis, nggan uwis". Lantas menyuruh kami tidur. Dan barusan ibu mendongenng untuk mas Agha, pun diakhiri dengan kalimat pemungkasnya. Tapi kali ini ibu sudah lebih kekinian, simbah jaman now. Tokoh ceritanya ipin upin, kisahnya tentang pipis di kamar mandi, atau istilah kerennya toilet training (maklum mas Agha on process toilet training, 😂)
Bersyukur mempunyai ibu yang luar biasa hebat dan penuh semangat dalam mendidik kami.
semoga kita pun bisa menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak kita, amin. We love you, so much.

0 comments:

Posting Komentar

teman-temanku, menulis adalah kolaborasi antara hati dan pikiran kita, tulislah saran, kritik, uneg2, atau sekedar tanggapan kalian.

well, siapapun kalian,
terimakasih untuk meninggalkan jejak langkah disini, :)