Kamis, 29 November 2018

Memahami Gaya Belajar Anak



Alhamdulillah, tak terasa perjalanan kami di kelas bunsay sudah sampai pada materi ke-4. Tema yang diangkat kali ini adalah Gaya Belajar Anak. Tujuannya agar kami, para ibu memahami gaya belajar anak sehingga bisa mendampingi dengan benar. Anak-anak pun bisa belajar dan menyerap tiap hal dengan lebih optimal.

Lantas apa sih gaya belajar?

Dari beberapa materi baik dari kelas bunsay maupun hasil gugling, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang paling efektif bagi tiap individu untuk menyerap, mengolah dan memahami tiap informasi/ilmu yang masuk. Jika dulu, di sekolah para siswa yang harus mengikuti, manut, dan menyesuaikan diri dengan gaya guru mengajar, kini sudah seharusnya para guru lah yang mencari tahu gaya belajar paling efektif untuk tiap anak didiknya. Nah, karena orangtua adalah pendidik utama putra-putrinya, sudah sepatutnya para orangtua memahami gaya belajar mereka.

Minggu, 18 November 2018

Jejak Riona 2

Kabar menghilangnya Riona sudah beredar di seantero pabrik tempat kerja Rio. Teman-temannya banyak yang berempati. Beberapa ikut membantu pencarian. Bahkan atasannya memberi dispensasi masuk setengah hari kalau memang dibutuhkan atau ada panggilan dari Kantor Polisi.

Kehidupan Ratna dan Rio tak lagi manis seperti minggu-minggu sebelumnya. Tiada hari tanpa tangis Ratna. Pikiran Rio pun tak bisa sepenuhnya saat di tempat kerja. Fokus Rio terpecah. Otaknya penuh dengan nama Riona, gadis kecil kesayangannya.

Berbagai praduga mulai menghiasi kepala Rio maupun Ratna. Hanya saja Rio tak berani mengucapnya secara terang. Ia menyimpannya dalam hati sembari terus berusaha mengenyahkan prasangka buruk.

Sabtu, 17 November 2018

Jejak Riona

"Pak, gimana kalau Riona beneran diculik, Ibuk nggak akan bisa maafin diri ibuk sendiri Pak," ratap Ratna di tengah isak tangisanya.

"Ibuk jangan pesimis gitu, lebih baik banyak doa dan terus berbaik sangka," hibur Sang Suami dengan nada penuh harap.

"Tapi Polisi sudah mencari kemana-mana kan Pak, nyatanya belum ada hasilnya, harusnya saat isu penculikan itu merebak, Ibuk lebih hati-hati, semua salah Ibuk, harusnya Riona diantar jemput sama Ibuk ya Pak," racau Ratna menyalahkan dirinya sendiri.

Kamis, 08 November 2018

Gadis Kecil di Stasiun


Siang ini panas begitu terik. Udara terasa mencekik. Berkali-kali aku melihat jam merah marun yang melingkar di tangan. Jadwal kereta yang akan membawaku ke Surabaya masih 1 jam lagi. Ransel merah yang penuh dengan baju untuk dua hari kuletakkan di lantai, menjadi sandaran kaki. Iseng, aku mengamati flat shoes beludru kesayanganku. Warna marunnya kini semakin memudar karena terlalu sering kupakai. Jenuh dengan kesendirian, Aku memilih untuk berselancar di instagram.

Sebenarnya salahku sendiri yang datang terlalu dini. Aku takut terlambat seperti tiga bulan lalu. Mau tak mau aku harus memilih bis sebagai pengganti kereta yang meninggalkanku. Belajar dari pengalaman, aku berangkat dari rumah satu jam lebih awal. Tiba di Stasiun masih sangat lengang, belum ada penumpang Argo Bromo Anggrek satu pun. Baru ada beberapa penumpang kereta Kaligung yang akan menuju Semarang. Aku bukannya sok tahu, aku tahu karena saat Kaligung datang dari Tegal, satu per satu dari mereka masuk ke dalam, meninggalkanku sendirian di ruang tunggu.

Minggu, 04 November 2018

Mengenalkan Permainan Tradisional "Ingkling"


Bagi emak-emak yang lahir sebelum tahun 90an, hampir pasti mengenal permainan ingkling.  Kenapa saya menyebut sebelum tahun 90an? Karena makin kesini, ingkling makin jarang dimainkan. Apalagi anak zaman now, sebagian mereka lebih memilih game atau berjibaku dengan gadget. Padahal hampir tiap daerah mengenal permainan ini, meski mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya engklek, dengkleng, teprok dan masih banyak nama lain yang digunakan.

Ingkling adalah permainan yang melatih motorik kasar anak. Permainan ini mengandalkan gerak aktif para pemainnya sehingga sangat bagus untuk tumbuh kembang dan kesehatan anak serta melatih keseimbangan karena menggunakan satu kaki untuk melompat dari kotak ke kotak. Ingkling biasanya dimainkan oleh dua orang atau lebih, bahkan bisa sampai lima orang. Mereka saling bergantian menunggu giliran mainnya tiba. Biasanya penentuan giliran menggunakan hompimpa atau suit jika hanya dua orang.

Bagimana cara memainkannya?

Kamis, 01 November 2018

Meningkatkan Kecerdasan Anak



Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk sampai di Bulan November, bulan ketiga kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesioal. Tema besar pada tantangan kali ini adalah Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak Demi Kebahagiaan hidup. Tema yang menarik karena pastinya tiap orang ingin bahagia. Begitu pun, anak-anak kita, ingin bahagia mengarungi bahtera kebidupan.

Senin, 29 Oktober 2018

Sudahkah Profesi Kita sesuai Passion?



Tiap bicara profesi, hal yang menarik bagiku adalah passion. Sudahkah profesi kita sesuai passion? Kata Rene Suhardono, passion adalah bahasa jiwa, apa yang membuat kita nyaman, segala sesuatu yang kita cintai. Jadi ketika profesi yang kita jalani saat ini sudah sesuai passion, maka akan sangat produktif lah kita, karena kita menjalankannya dengan cinta. Bukan semata-mata karena uang atau gaji.

Seringkali kita mendengar atau bahkan menemukan pekerjaan seseorang yang tidak sesuai jurusan saat kuliah. Ada yang jurusannya di Biologi, ternyata lulus menggeluti dunia fotografi. Ada lulusan Ekonomi lulus memilih untuk menjadi koki. Ada lulusan pertanian lulus menjadi bankir profesional. Ada pula jurusan ekonomi lulus memilih fokus pada desain grafis. Deretan contoh tersebut bisa dikarenakan memang seseorang memilih untuk setia pada passionnya atau justru karena kondisi yang memaksa seseorang ada pada posisi tersebut.

Bagi ku, orang yang bisa bekerja sesuai passionnya sangat beruntung. Bahkan aku salut pada mereka. Apalagi yang rela keluar dari zona nyaman demi untuk merealisasikan mimpi dan mengembangakn bakat sesuai passionnya.

Bermain di Alam Terbuka (Part 1)

Weekend adalah hari yang paling kutunggu dalam sepekan. Bukan karena tidak mencintai pekerjaan, tapi karena saat weekend aku bisa full membersamai duo sholih, Agha dam Affan. Menjadi quality time kami yang cukup efektif. 

Minggu ini agenda kami adalah dolan ke kebonan, belajar dari alam. Tidak jauh dari rumah, berjarak sekitar empat rumah, kami bisa menemukan sungai kecil yang beriak kecil dan jernih. Di sebelahnya ada persawahan dan kebun milik tetangga yang masih rimbun. Beberapa tumbuhan liar masih tumbuh disini. Kupu-kupu, kadal,  kodok, ulat juga bisa ditemui. Jika beruntung kami masih bisa menikmati kicauan burung yang singgah di dahan-dahan pohon. Ini adalah salah satu keuntungan hidup di desa, belajar dari alam secara gratis.

Penulis Pemula



Kemaren malam, saat duo sholih sudah lelap, aku mengintip WA. Ada nama tetangga yang tak biasa muncul di beranda secara tiba-tiba. Karena usia kami terpaut cukup jauh, selama ini kami jarang atau bahkan tak pernah benar-benar saling berkomunikasi. Seingatku sejauh ini kami hanya bertegur sapa dengan senyum ketika berpapasan. Selebihnya hanya chat WA saat dia menanyakan lowongan pekerjaan di pabrik tempat aku mengais rezeki. Itupun sudah cukup lama.

"Mba ela penulis? Aku suka kagum sama orang yang bisa nulis, tips dong mba 😄"

Bermimpilah



"Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu"

"Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia."

(Andrea Hirata, Sang Pemimpi)
***

Jangan pernah takut bermimpi dan berharap, karena mimpi dan harapan adalah pondasi dari tiap nafas kehidupan. Selagi bermimpi itu belum dilarang dan masih gratis, maka bermimpilah setingi-tingginya.  Rugi jika kita bermimpi pada hal-hal yang kecil dan tak butuh energi ekstra untuk mewujudkannya. Mengerikan kalau kita puas hanya pada mimpi dan pencapaian kecil. Lama-lama kita bisa mengerdil.

Minggu, 28 Oktober 2018

Ingin Anak suka Buah dan Sayuran? Berikan Teladan!

"You are what you eat, Anda adalah apa yang anda makan"

Kalimat tersebut ingin menjelaskan kepada kita bahwa tubuh dan pikiran sangat dipengaruhi oleh makanan yang kita makan. Artinya, jika ingin mempunyai tubuh yang sehat, segar dan bugar maka yang pertama harus diperhatikan adalah asupan yang kita makan. Sudah sehatkah makanan yang masuk dalam tubuh?

Allah melalui ayat-ayat-Nya dalam Alquran, mengajarkan  dan memerintahkan umatNya untuk memakan makanan yang tidak hanya halal, namun juga baik (thoyyib). Makanan yang baik atau thoyyib ini maksudnya adalah makanan yang memberikan pengaruh baik untuk tubuh. Yaitu makanan yang bernilai gizi, bukan hanya makanan yang mengenyangkan dan enak di lidah.

Dua Cahaya

Dulu
Pernah ada redup
Saat purnama tak kunjung datang
Dan bintang-bintang pun enggan bertandang
Bahkan matahari pun menghilang dari peredaran

Atau mungkin aku yang tak mau melihatnya?
Menghalangi tiap sinar terang yang menerobos jendela?

Entahah
Redup yang pernah begitu mencekam
Hadir tiap senja menjelang

Bahkan saat fajar mengetuk pintu
Aku tetap diam membatu

Kini...
Dua cahaya selalu hadir
Menebar sinar yang menentramkan
Dan menyejukkan

Mengisi tiap relung kosong yang pernah redup
Untuk kembali menjadi hidup

#tantanganodop6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi #puisi

Senin, 22 Oktober 2018

Like Father Like Daughter


Biasanya slogan yang kita temui adalah like father like son, kali ini aku ubah sendiri karena aku perempuan, jadi ya cocoknya like father like daughter.

Ini serius, aku memang jauh lebih mirip ke bapak, bukan ke ibu. Tidak hanya wajah yang mirip dengan bapak, tapi beberapa kebiasaan lain juga cenderung mengikuti bapak, terutama hobiku membaca. Virus membaca yang bersarang menjadi kebiasaanku memang tertular dari bapak. Bahkan sampai sekarang aku jarang sekali melihat ibu membaca, kecuali Alquran, kitab berzanji, manaqib, beberapa wirid dan hape.

Bapak sangat hobi membaca, apa saja. Bukan hanya kitab kuning gundul yang menjadi bacaan hariannya, tapi koran, buku bercocok tanam, buku sejarah, biografi bahkan novel pun dilahap beliau. hobi ini masih berlangsung sampai sekarang di usia senjanya. Hanya saja porsi untuk novel sekarang sudah jauh berkurang, bapak jauh lebih sering membaca kitab kuning dengan bahasa arab gundul di sela-sela waktunya. Bahkan di rumah kami, ada lemari buku yang isinya kitab milik bapak, dari mulai kitab yang sangat tipis sampai dengan ketebalan lebih dari lima cm.

Hari Santri

Berawal dari resolusi
Yang diserukan oleh guru kami, hadrotus syaih Hasyim Asy'ari
22 Oktoober surat diedarkan
Menyerukan perintah melawan penjajah yang arogan

Seolah terlupakan atau sengaja dilupakan
Bertahun-tahun terlewati
Tak banyak yang tahu hari ini
Dimana ribuan santri dan kiai menjadi pasukan berani mati
Demi kedaulatan bangsa ini, NKRI

Kini, semarak hari santri bergelora
Di seantero Indonesia
Membakar semangat di jiwa
Untuk selalu siap sedia
Menjaga harga diri bangsa
Dan juga kedamaian negara


Clarina yang Malang



"Bau apa ini?" teriak Andin dengan jijik.

"Pasti bau badan si Clarina, siapa lagi kalau bukan dia, sepertinya diantara kita hanya dia seorang yang paling bau," seru Laudya dengan nyinyir.

Beberapa teman lain berkasak kusuk di belakang. Tak enak hati mengkritik secara terang-terangan. Mereka hanya berani menjadi barisan nyinyir di belakang layar. Situasi seperti ini bukan sekali dua kali dirasakan Clarina, terlalu sering.

Karena selalu menjadi bahan olok-olokan, Clarina akhirnya menutup diri dan menjadi pribadi pemurung. Ia seringkali menangis sendirian. Sesenggukan dalam diam. Menatap kosong pada malam yang begitu pekat. Saat yang lain beristirahat.

Clarina tahu kalau dirinya memang bau. Bau badannya amat menyengat. Apalagi pada saat jam olahraga, baunya bisa berkali-kali lipat. Tapi, Clarina sudah menyerah. Ia lelah dan akhirnya mengaku kalah. Memang beginilah kondisinya, dan ia tak kuasa merubahnya.

Kamis, 18 Oktober 2018

Melatih Anak Menabung dengan Celengan


Gambar di atas adalah celengan pertama Agha. Celengan "homemade' karya Bunda dan Agha. Memanfaatkan botol bekas bedak yang sudah tidak terpakai. Selain hemat karena nilainya yang murah meriah juga bertujuan untuk mengajarkan Agha kreatif memanfaatkan apa yang ada si sekitar kita.

Proses pembuatannya sangat mudah. Cukup dengan mencuci bersih botol dan melubanginya dengan pisau atau gunting. Lubang ini berfungsi untuk memasukkan uang ke celengan. Jadi pastikan lubang tidak terlalu besar agar uang tidak bisa diambil. Namun juga jangan terlalu kecil karena anak akan kesusahan memasukkan uang. Jika ingin celengan nampak lebih manis, bisa disampul atau dihias dengan kertas warna-warni atau kain flanel. Kalau milik Agha, karena dengan yang seperti itu saja Agha sudah sangat senang, Bundanya tidak melanjutkan menghias tampilan luarnya.

Makan Menjelang Tidur

Anak-anak memang unik. Termasuk dalam hal selera makan dan polanya, tak bisa disamaratakan. Begitu pun duo sholih, Agha dan Affan, meski terlahir dari rahim yang sama, pola dan selera nya juga berbeda. Meski ini baru pengamatan awal di usia mereka yang masih dini, tiga dan satu tahun. 

Affan, sejak MPASi di usianya yang 6 bulan sudah menunjukkan bahwa ia si penyuka makan dan bukan si pemilih. Apapun ia lahap, menjadi tugas kami orang dewasa di sekitarnya yang harus selektif memilihkan makanan untuknya, tentunya makanan halal dan thoyyib. Adapun Agha, sedari kecil sudah sangat pemilih dalam hal makan, emak zaman now menyebutnya picky eater. Bahkan Agha tidak mau membuka mulut sebelum ia benar-benar merasa lapar. Kebiasaan sedari kecilnya ini ternyata berlanjut sampai sekarang di usianya yang ke 3 tahun.

Rabu, 17 Oktober 2018

Kalau Lapar Makan, Bukan Nangis


Kemaren sore, seperti biasa sampai rumah akan disambut oleh Agha dengan gegap gempita.

"Asik, Unda pulang," celoteh Agha riang.

"jawab dulu salam Bunda," tegurku dengan pura-pura melotot. Agha pun menjawab salamku dan mengajakku salim.

Sejurus kemudian, "Unda bawa apa?"

Aku tertawa dengan kebiasaan barunya, menanyakan apa yang aku bawa, tepatnya oleh-oleh untuknya. BErawal dari seringnya aku membawakan oleh-oleh untuknya, meski sekedar yakult satu biji.

"Unda bawa apa?" tanya Agha sekali lagi mendapati aku hanya tersenyum tak merespon pertanyaannya.

"Hmmm, Bunda cuma bawa telur nih buat makan Agha."

"Bawa apa lagi selain telur?"

Evaluasi Tumbuh Kembang Anak di Ulang Tahun Pertama



Namanya Hayyan Ahmad Affandi, putra keduaku. Hari ini usianya tepat satu tahun sesuai penanggalan masehi. Doa dan harapan kulangitkan. Doa ini lah yang menjadi hadiah utama untuknya.

Ucapan syukur juga tiada hentinya kupanjatkan kepada Sang Pemberi Nikmat.  Hamdan wa syukron lillah, tanpa kemurahan dan kasih sayangNya, berbagai pencapaian Affan tak kan mungkin bisa sebaik sekarang. Dengan izinNya pula lah Affan diberi kesehatan yang prima, bekal yang sangat mahal di tahapan awal hidupnya.

Senin, 15 Oktober 2018

Abah Yai Masruri Abdul Mughni

KH. Muhammad Masruri Abdul Mughni, pengasuh Pondok Pesantren Alhikmah 02 Benda Sirampog Brebes. Kami, para santri memanggilnya Abah Yai. Sosoknya yang sangat teduh, bijaksana, alim, murah senyum dan hampir tidak pernah marah kecuali untuk alasan syar'i membuat para santri mengagumi dan mengidolakan beliau. 

Beliau lahir di desa Benda, 23 Juli 1943 dari pasangan Hj. Abdul Mughni dan Ny. Maryam. Abah yai merupakan cucu dari KH. Kholil bin Mahalli, salah satu pendiri pondok pesantren Alhikmah. Abah Yai tumbuh dan besar di lingkunagn pesantren hingga usia 13 tahun di bawah asuhan langsung sang Kakek.

Pada usia 14 tahun, abah mulai merantau ke luar desa Benda untuk mondok dan ngawruh ilmu di Pondok Pesantren Tasik Agung Rembang selama kurang lebih dua tahun. Setelah itu Abah melanjutkan pendidikan pesantrennya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur di bawah asuhan KH. Wahab Hasbullah.

Agha Minta Makan


Sabtu sore, usai memandikan Agha dan Affan aku menyiapkan makan sore untuk Affan. Sekitar jam lima sore menu sederhana Affan siap untuk disajikan. Menu yang selalu kuusahakan menjadi menu seimbang, berisi seujung centong nasi, sayur bening yang berisi wortel, kubis dan bayam, ditambah tempe rebus dan udang kupas goreng nampak sangat menggiurkan. Affan berusaha terus menggapai makanannnya yang masih kupegang. Setelah kulumatkan dan teksturnya sudah sesuai dengan seleranya barulah aku menyuapi Affan di ruang tengah.

Melihat Affan makan dnegan lahap, Agha juga meminta makan.

"Unda, Agha juga mau makan," pinta Agha kepadaku.

"Eh, Agha juga lapar?" tanyaku kaget mendengar permintaan Agha.

Bagiku, Agha meminta makan sendiri adalah momen langka. Agha termasuk orang yang benar-benar mengikuti sunnah nabi. Belum mau makan jika belum lapar. Itu pun harus aku tawari berulang kali. Dan, dalam kondisi lapar pun Agha tetap menjadi picky eater, memilih makanan sesuka hati dan seleranya.

Kembali ke Rumah

Alhamdulillah, Sabtu dini hari akhirnya bisa touch down di Stasiun Pekalongan. Dengan setia suami tercinta menanti kedatanganku yang diantar oleh Sembrani dari kota Pahlawan Surabaya. Karena belum makan malam, meski dini hari kuiisi dulu perut yang keroncongan. Memberikan hak perut agar tidak meronta-ronta. Mie Ayam panas pinggir jalan cukup untuk mendiamkan bebunyian dari dalam perut. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan dengan motoran. Sekitar jam satu, sampai juga kami di rumah. 

Rindu yang membuncah pada duo sholih segera kutunaikan. Kuciumi mereka satu persatu meski keduanya sedang tidur. Aroma keringat mereka yang sangat kuhapal menguar di kamar. Baju mereka basah oleh keringat karena cuaca Pekalongan sangat panas dan kipas angin tidak dinyalakan.

Biasanya, jika sudah kuyup oleh keringat seperti itu, maka mereka akan terbangun. Sebelum itu terjadi, kunyalakan kipas menghadap tembok, tidak langsung mengenai tubuh mereka. Tujuannya tentu saja agar tidak terlalu dingin, masuk angin dan diceramahin oleh Mbah ibu.

Kamis, 11 Oktober 2018

Ketika Jarak Memisahkan Kita



Saat ini posisiku masih ada di luar kota, tepatnya di Grand New Park Hotel Surabaya. Tujuan kami adalah Villa Arsaba Trawas Jawa timur. Baru besok pagi kami akan meluncur kesana untuk agenda meeting HRD PT Behaestex grup.

Berjarak lebih dari 400 KM dari Pekalongan tentunya memunculkan rasa kangen yang luar biasa pada duo sholih tersayang. Bersyukur sekarang semuanya jauh lebih mudah karena canggihnya tekonologi. Fitur Video Call Whatsapp menjadi pilihan kami untuk berkomunikasi.

Rabu, 10 Oktober 2018

Melepas Popok Saat Malam


Salah satu skill kemandirian yang ingin aku biasakan kepada Agha adalah melepas popok saat malam. Merdeka dari popok sekali pakai. Sebenarnya sejak dua tahun, alhamdulillah Agha sudah berhasil pipis di kamar mandi dalam keadaan terjaga.

Dulu, hanya butuh waktu satu minggu untuk membiasakan pipis di toilet. Istilah kerennya toilet training. PR bagi kami adalah saat keadaan tidur. Awal toilet training dulu saat malam Agha aku kondisikan tidak memakai popok sekali pakai. Namun karena belum terbiasa, Agha ngompol di celana. Harusnya kami lebih telaten dan disiplin membangunkan Agha saat malam untuk pipis agar tidak kebanjiaran di kasur.

Selasa, 09 Oktober 2018

Meletakkan Mainan di Tempatnya


Malam ini kami hanya bertiga di rumah. Ayah belum pulang. Mbah ibu dan mbah akung menghadiri pengajian Habib Lutfi di Kayu Geritan.

Bersyukur sekali, saat bertiga seperti ini Agha sangat kooperatif, bisa diajak kompromi. Tingkahnya manis sekali.

Senin, 08 Oktober 2018

Mengelompokkan Mainan


Tantangan hari ke-5, masih berkutat dengan merapikan mainan. Karena ternyata sangat butuh waktu untuk membiasakan anak disiplin. Bukan hanya keteladanan, tapi juga latihan terus menerus. Konsisten adalah salah satu kunci utamanya. Kerjasama dengan orang satu rumah juga memegang peranan penting untuk berhasil meraih misi yang diinginkan.

Dalam tantangan merapikan mainan, Agha sebagai partner utama bisa sangat kooperatif. Tapi bisa juga tiba-tiba mood nya hilang dan acuh tak acuh pada mainannya. Kerjasama tim satu rumah dalam misi ini juga belum berjalan baik, terutama dengan mbah ibu dan mbah kung.

PUISI UNTUK IBU

Hai, namaku Apik. Ayah yang memberiku nama itu. “nama kamu memang sederhana nak, namun penuh makna.” Kata ibu. Apik diambil dari bahasa Jawa, artinya baik atau bagus. Melalui nama ini, terselip doa dari Ayah yang ingin aku menjadi anak yang baik, jadi kebanggaan ayah. Usiaku saat ini sepuluh tahun, dan sekarang aku memasuki tahun keempat sekolah dasar. Tiap habis sholat, aku selalu berdoa untuk ayah dan untuk diriku sendiri agar bisa menjadi anak yang baik seperti harapan ayah, agar ayah bahagia di alam sana. Itu yang diajarkan ibu padaku.

“Apik, untuk menjadi orang yang baik, kita harus disiplin. Disiplin pada diri sendiri, termasuk disiplin waktu” Tegas ibu tiap kali membangunkanku. Aku hanya berani diam jika ibu sudah menasehatiku soal waktu karena memang aku sangat buruk tentang itu. Sejauh ini, kata ibu, perangai jelekku yang harus dikikis habis adalah susah bangun pagi. Aku seringkali kesiangan, tidak jarang aku sholat subuh berkejaran dengan matahari terbit. Dan kesiangan ini akan berujung pada kesiangan-kesiangan lain, termasuk kesiangan berangkat sekolah.

PARA PENCARI KERJA

Aku menatap langit lekat-lekat dari balkon kos ku, takut hujan. Mendung masih bertahta di atas sana. Aku segera berkemas memasukkan beberapa potong pakaian dan berkas-berkas penting yang aku butuhkan nanti di kota seberang. Harapanku membuncah, dalam hati aku berdoa semoga ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk aku. Dengan semangat aku menenteng tas jinjingku menuju jalan raya. 

Saat ini aku sudah di dalam angkutan kota, orang setempat menyebutnya Len. Len ini yang akan mengantarkanku menuju terminal Arjosari. Hanya ada segelintir orang di dalam Len yang masing-masing tanpa bertegur sapa. Hujan mulai turun sesaat setelah aku masuk Len. Rinainya sangat indah, memantul-mantul di kaca jendela yang tertutup rapat. Suara petir menggelegar menjadi backsound dalam perjalananku. Hujan semakin lebat, tapi perjalananku ke terminal belum ada separuhnya.

Minggu, 07 Oktober 2018

Hectic di Minggu Pagi



Hari minggu pagi  yang biasanya berlangsung tanpa drama, kali ini riuh. Rumah ramai sekali dengan berbagai aktivitas. Mbah ibu sedang bersiap-siap untuk berangkat ziarah bersama tim Muslimat NU Cabang Pekalongan. Mbahkung membantu ibu menyiapkan apa yang belum siap. Ayah bertugas menjaga duo sholih sebelum kuambil alih. Aku dapat tugas khusus memasak bakmi goreng untuk sarapan dan bekal mbah ibu di dalam bis.

Jam enam pagi, sesuai kesepakatan Mbah ibu sudah harus ada di lokasi berkumpul, Kantor Cabang NU Kabupaten Pekalongan. Lokasinya ada di kecamatan Kedungwuni, lebih tepatnya di sebelah alun-alun Bebekan. Jarak tempuh dari rumah sekitar 20 menit perjalanan. Syukurnya, sekitar jam setengah enam, semua sudah siap dan Mbahkung pun sudah memanaskan motor siap menjadi supir pribadi untuk istri tercintanya, Mbah ibu nya duo sholih.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Makan di Luar



Kemaren, usai jalan-jalan pagi dengan ayah aku mengajak Agha untuk sarapan. Aku kira akan mendapatkan jawaban penuh semangat mengingat Agha baru saja menyampaikan kalau dia lapar. Tapi jawabannya membuatku heran bahkan terkaget-kaget.

"Agha mau makan di luar Nda," kata Agha sembari merebahkan badannya di kasur.

"Loh, kok makan di luar?" tanyaku heran. Jika adegan ini difilmkan, bisa jadi dahiku nampak berkerut-kerut mendengar celoteh Agha.

"Iya, sama Ayah," jawab Agha masih tiduran di kasur. 

"Makan di rumah aja ya, Bunda sudah goreng telur lho." aku berharap Agha mau diajak makan di rumah. Telur adalah favorit Agha. Menu termudah jika Agha tidak mau apapun.

"Nggak mau, Agha mau makan di luar." Agha masih keukeuh dengan kemauannya.

"Emangnya Mas Agha mau makan apa kalau makan di luar?" tanyaku memulai negosiasi.

"Agha mau ayam kriuk." Agha menjawab sembari mulai mengambil mainan milik Affan, boneka jari. Agha menumpahkannya dari dalam wadah.

Jumat, 05 Oktober 2018

Memasukkan Jeruk ke Keranjang



Sepulang kerja, memasuki rumah aku disambut dengan buah jeruk yang berserakan di ruang tengah. Posisinya bepencar, ada yang di kasur, di lantai bahkan di kolong meja TV dan kolong lemari kitab mbahkung. Pemandangan yang menakjubkan. Reaksiku? cukuplah untuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

Dalam keterpanaan, saat masuk kamar, ternyata ada keranjang kecil tempat jeruk biasanya bersemayam sedang asik masyuk di atas bantal. Aku nyengir kuda, mengatur hati jangan sampai terbawa emosi. Mas Agha yang sedari dari pintu depan membuntutiku terlebih dulu kusuruh menunggu di luar. Aku butuh privasi untuk berganti pakaian dinas harian, daster batik kesukaan.

Usai berganti pakaian dan mencuci tangan, Kuambil alih Affan dari gendongan Mbahibu. Jangan tanyakan aku kapan aku mandi sore. Karena itu adalah salah satu kemewahan yang jarang sekali bisa kudapatkan. Agha mulai bergelayut manja mengikutiku yang mengambil minum ke belakang sembari menggendong Affan.

Kamis, 04 Oktober 2018

Gagal Mengendalikan Emosi

Aku beristighfar berkali-kali. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullahaladzim. Beribu sesal menumpuk di dada. Seharusnya aku bisa lebih sabar menghadapi Agha, putra pertamaku. Karena bagaimanapun juga, ia tetaplah anak kecil, meski berstatus mas / kakak.

Sebenarnya memang beberapa hari terakhir ulah Agha cukup menguras hati dan emosi saat Affan menjelang tidur. Bedanya malam-malam sebelumnya, aku masih bisa meredam dan mengalihkannya. Malam ini entah kenapa, aku sangat marah padanya.

Merapikan Mainan



Awal Oktober ini perkuliahan Bunda Sayang Institut Ibu Profesional memasuki materi dan tantangan kedua: Melatih Kemandirian.

Jika sebelumnya kita dibiasakan untuk berkomunikasi produktif, kali ini kita diajak untuk melatih kemandirian baik untuk diri sendiri, pasangan maupun anak. Kami bebas menentukan salah satu selama periode tantangan. Adapun skill yang akan dilatihkan ditentukan di awal untuk kemudian dilatihkan selama minimal satu minggu.

Minggu, 30 September 2018

Bersepeda



Jika biasanya saat hari aktif Agha dan Affan jalan-jalan pagi bersama ayahnya. Kali ini Affan jalan-jalan dengan bundanya, mumpung weekend.  Bedanya, kalau ayah jalan-jalan persis setelah turun dari mushola usai shalat subuh. Sedangkan bersama bundanya baru bisa jalan-jalan setelah matahari bersinar cerah.

Sebenarnya selain bertujuan untuk membersamain anak, memang ada tujuan lain yaitu berjalan kaki lebih lama daripada biasanya. Tentu saja berjalan kaki ini tujuan untuk diriku sendiri. Dalam seminggu aktifitas berjalan kaki sangatlah kurang. Kegiatan terbanyak adalah duduk di depan komputer saat jam kerja atau duduk melantai main bersama anak. Nah weekend seperti ini adalah moment memebersamai anak sekalian moment sehat.

Menemukan Huruf Hijaiyah



Hari Sabtu dan Ahad adalah hari yang penuh semangat. Hari dimana aku bisa full membersamai duo sholih. Seperti biasa tiap weekend, aku selalu berusaha menyiapkan mainan untuk anak-anak. Kalau istilah sekarangber DIY, do it yorself, membuat mainan sendiri.

Mainan yang aku siapkan kali ini, karena mendadak hanyalah alakadarnya. Alhamdulillah Affan dan Agha senang dan riang. Sesekali berebut itu hal yang wajar, kitalah yang perlu menyikapinya dengan baik dan bijak.

Kenapa Harus Pakai Sabun

Sore kemaren Agha tetiba lari ke kamar mandi saat sedang asik bermain puzzle huruf hijaiyah. Sebelum masuk dia lebih dulu meelepas celananya dan berteriak, "Unda, Agha mau e'e."

"Iya," jawabku singkat.

Aku pun menyambanginya ke kamar mandi, memastikan semua berjalan semestinya. Tapi justru Agha marah dan mengomel.

"Unda sana, jangan disini nanti bau."

Sabtu, 29 September 2018

Komunikasi Produktif

Berbicara soal komunikasi selalu menarik. Apalagi jika itu komunikasi dalam sebuah keluarga, telebih pada pasangan. Karena kadang perselisihan kecil dalam rumah tanggga disebabkan komunikasi yang tidak tepat. Meskipun itu perselisihan kecil jika menggunung pun lama-lama bisa menjadi bom waktu, meledak. Apalagi bagi para istri yang tingkat kebaperannya di atas angka rasionya, hal ini bisa menjadi masalah yang wajib dicarikan solusinya. Bagaimana komunikasi yang baik, komunikais produktif.

Alhamdulillah, di perkuliahan Bunda Sayang IIP, materi pertama yang kami pelajari adalah komunikasi produktif. Materi ini  kemudian kami aplikasikan dalam bentuk tantangan sepuluh hari. Sebenarnya sepuluh hari adalah batas minimal yang harus dilaporkan. Setelah sepuluh hari terlewat mestinya kita tetap menerapkannya, jadi ilmu yang diterima jauh lebih bermanfaat bukan?

Rona Hati 2

Jam dinding di dapur staf kantor ini seolah mengejekkku. Aku hampir mati bosan tapi jam kerja masih satu jam lagi. Entah karena tugaslu yang terlalu ringan atau karena aku yang gesit, semua pekerjaan sudah kusesaikan dengan rapi.

Aku masuk jam tujuh pagi dan pulang saat jam menunjukkan pukul tiga. Tujuh jam per hari dan enam hari per minggu. Aku baru tahu ternyata jam kerja normal masyarakat Indonesia hanya 40 jam per minggu. Itu sudah diatur di perundangan kata ibu HRD yang memberikan orientasi karyawan baru.

Jumat, 28 September 2018

Rona Hati

Gubrak.
Suara orang menggebrak meja. Aku mengkeret di pojok ruangan. Padahal aku tidak terlibat dalam percecokan itu, maksudku dalam perdebatan itu. Aku ada di ruangan yang berbeda, berbatas dinding, tapi suara menggelegar barusan ternyata menyiutkan nyaliku.

Ini bukanlah kali pertama aku mendengarnya. Mungkin sudah dua kali dalam minggu ini. Aku menegarkan hati. Bersiap apapun yang akan terjadi. Bagaimanapun keadaannya di dalam sana, aku tetap harus masuk. Menawarkan minuman dan menyiapkannya.

Senin, 24 September 2018

Perhatian Kecil

"Unda, minyaknya Unda ketinggalan," seru Agha saat aku sudah di atas motor.
Aku sudah pamit ke duo sholih, tinggal menyalakan motor dan wuz. Tapi celoteh Agha membuatku urung.

"Minyak apa Sayang?" tanyaku bingung

"Minyaknya Unda, ini," kata Agha sembari berlari kecil ke arahku dan memberikan minyak yang dia maksud.

"Terimakasih ya Sayang," kataku tulus dan terenyuh.

"Iya, biar kalau Unda kerja terus batuk pakai minyak."

Rindu yang syahdu

Bolehkah aku merindumu?
Bolehkah aku memujamu?
Bolehkah aku mengagumimu?
Bolehkah kujadikan engkau pelita di hatiku?

Wahai, Sang pemilik jagad
Wahai, penguasa langit
Sampaikan salam dan rinduku padanya

Titipan Allah Part 2


Tiap anak punya sejarahnya masing-masing. Bahkan meskipun terlahir dari rahim yang sama, kisah kehamilan bisa berbeda antar anak satu dengan lainnya. Seperti hal nya Agha dan Affan, duo sholihku tersayang yang punya cerita  berbeda di tiap episodenya.

Mereka berdua berjarak 23 bulan, lebih mudah aku menyebutnya selisih dua tahun. Agha terlahir di bulan November, Affan di bukan Oktober dua tahun setelahnya. Cerita tentang kehamilan Agha sudah saya kupas sebelumnya. Kali ini waktunya menceritakan perjalaan sembilan bulan Affan di dalam kandungan.

Minggu, 23 September 2018

Toilet Bau

Deru suara motor ayah memasuki rumah. Adit berlari menyambut ayah dengan kostum rapi, lengkap dengan topi.

"Ayah, Adit sudah siap, ayuk berangkat," ucap Adit sambil bergrlayut manja ke ayahnya.

"Iya, Adit rapi banget, tapi ayahnya masih buluk, ayah siap-siap dulu ya."

"Jangwn lama-lama lho, Adit nggak suka nungguin kelamaan," kata Adit menirukan gaya kalimatku tiap kali menunggu ayahnya.

Ayah tertawa mendengarnya dan berlalu ke kamar mandi.

Weekend ini ayah berjanji mengajak kami jalan-jalan ke Gedung Serba Guna di dekat alun-alun. Ada bazar buku disana. Aku senang sekali menanggapi ajakan ayah.

Sejak pagi aku sengaja merapikan rumah dengan cepat, masak nasi goreng telur kesukaan ayah untuk sarapan dan menyuruh Adit mandi lebih pagi. Urusan cuci mencuci sengaja kutunda besok, agar aku tak terlalu lelah sehingga bisa lebih fit dan fresh.

Gara-Gara Bau

"Huekss, Bau apa ini Ma?" tanya Adit saat kami melintas di lorong lapak pasar tradisional.

"Ssst, jangan keras-keras ngomong kek gitunya," kataku lirih pada Adit.

"Emangnya kenapa Ma, bau apa tho ini Ma?" tanya Adit sekali lagi.

"Ya bau pasar lah Dit, tadi kan Mama sudah bilang, nggak usah ikut."

"Tapi Adit sudah lama sekali nggak pernah ikut Mama ke pasar." bela Adit tak mau disalahkan.

Jumat, 21 September 2018

Langkah Pertama

Mengamati dan turut menstimulasi tumbuh kembang buah hati tentunya menjadi hal yang menyenangkan bagi para oarangtua. Bukan hanya karena amanah sebagai orangtua, tapi hal ini juga bisa menjadi salah satu mood booster dan hiburan di kala penat. Sungguh anak-anak adalah penyejuk hati dan penawar rasa lelah.

Saat ini Adek Affan ada di fase tumbuh kembang di awal usia. Pada tahapan ini Affan masih sangat lucu-lucunya. Tubuhnya padat berisi dan energinya tidak pernah habis. Motorik kasarnya berkembang pesat. Sekarang usianya sebelas bulan, ia mulai bisa berjalan cukup jauh meskipun dengan langkah amat pelan.

Rabu, 19 September 2018

Marah pada Anak

Hampir tiap ibu pernah atau bahkan sering marah pada anaknya. Banyak penyebabnya, bisa karena alasan yang benar-benar prinsip, atau hanya masalah sekecil selilit. Reaksinya pun bermacam-macam. Ada yang suaranya naik beberapa oktaf, ada yang mengomel sepanjang jalan kenangan, bahkan ada yang parah sampai membanting barang, namun masih ada. pula yang cukup beristighfar dan mengelus dada.

Lantas kita masuk contoh yang mana? Semoga pelan tapi pasti kita bisa semakin mengendalikan dan mengatur emosi kita. Saya pernah menulis tulisan singkat sebelumnya untuk mengambil jeda saat kita mulai merasa marah pada anak. Tujuannya apa, agar sebelum kita bereaksi, emosi negatif yang muncul saat marah berkurang dan kita bisa berpikir lebih rasional.

Selasa, 18 September 2018

Cerita tentang Orang China Part 2


Hampir satu bulan ini, hari-hari kami di kantor dipenuhi interaksi dengan teknisi dari China. Dua orang asing yang tak asing lagi. Tak terasa ternyata waktu berjalan teramat cepat. Sudah saatnya para tamu ini kembali ke negri asalnya.

Beberapa hari sebelumnya kami sudah menanyakan ke pihak user terkait kepulangan mereka. Mengingat visa mereka yang hampir habis. Melihat reaksi user yang santai, kami pikir mungkin akan diperpanjang. Hari demi hari pun berlalu, dan kami asik dengan kesibukan lain.

Menjawab Pertanyaan Anak


Apakah anak-anak kalian sudah mulai bertanya macam-macam? Jika jawabannya 'iya' maka sama, Agha pun demikian. Ia mulai bertanya macam-macam yang terkadang membuat dahi ini mengkerut dan bibir mengerucut. Mungkin fitrah belajarnya sudah mulai tumbuh, hingga ia mulai menanyakan tiap hal yang menurutnya aneh atau memang dia tidak tahu dan ingin tahu. Usia Agha saat ini tiga tahun kurang dua bulan. November nanti baru memasuki tahun ketiga usianya. Di tahun ini, rasa ingin tahunya berkembang pesat.

Sebenarnya aku suka sekali tiap Agha menanyakan sesuatu. Apalagi jika aku bisa menjawabnya dengan lancar bak seorang ahli, puas dan bangga sekali rasanya. Ditambah lagi melihat binar mata Agha yang juga puas dengan jawaban bundanya.  Makin mekar hidung ini sangkin senangnya. Mungkin seperti inilah perasaan seorang guru saat menjelaskan kepada anak didiknya yang berbinar-binar.

Minggu, 16 September 2018

Dua Malaikat

Malam kian larut
Rasa ini semakin akut
Berharap gayung bersambut
Dan engkau hadir
Membawa senyummu yang nyinyir

Tlah kusiapkan seember air
Tuk kuserahkan padamu
Agar kau tahu bagaimana rasanya bau anyir

Wahai kau pelaku media
Tidakkah kau tahu
Ada dua malaikat di bahumu
Raqib dan Atid namanya
Perlukah kujelaskan tugas mereka?

Oh, bahkan kau baru tahu namanya dariku?
Sungguh,
Apa saja yang kau lakukan sepanjang hari
Menyebar kebencian?
Memicu masalah?
Menebar fitnah?
Atau jangan-jangan kau hanya bisa membalas komentar orang dengan nyinyir?
Malangnya nasibmu

Sini, mendekatlah
Kubisiki sesuatu tentang dua malaikat di bahumu

Mereka adalah malaikat penulis kisah
Cerita tiap manusia
Untuk nantinya menjadi sejarah
Baik atau burukkah sikap di dunia
Temasuk sikap di sosial media
Jadi tak elok lah kalau kau sholat tiap waktu
Nyatanya tanganmu kau gunakan untuk hal seperti itu

Kami semua sayang padamu,
Karena kami tak mau menjadi korbanmu
Salam dari kami yang mencintaimu.


Meminta Izin Anak


Setelah hari sebelumnya sukses meminta restu dari ayahnya duo sholih untuk dinas luar kota, selanjutnya giliran izin dari duo sholih. Lebih tepatnya mungkin pamit. Kalau Affan belum begitu paham terkait hal ini, tapi Agha sudah mengerti sehingga butuh ekstra strategi agar tujuan bisa tercapai.

Malam hari saat kami bermain bersama, Agha minta dibacakan buku cerita. Saat itulah aku berusaha menyampaikan rencanaku.

Sabtu, 15 September 2018

Ulat Tercantik

Tak tahu siapa awalnya yang memulai, tapi ini benar-benar terjadi. Sederetan ulat sedang berlenggak lenggok dengan gemulai di atas panggung. Panggungnya amat megah, dari gabungan kelopak bunga-bunga langka di negeri rimba. Para penonton yang juga terdiri dari bangsa ulat nampak berkerumun. Mereka menjagokan masing-masing sukunya.

Hari ini adalah babak grand final penentuan ulat tercantik. Julukan yang terlilih nantinya adalah Miss Ulat Rimba 2018. Ajang ini menjadi ajang pertama dan satu-satunya di negeri rimba. Entah jika nantinya akan bermunculan ajang yang serupa di seluruh penjuru rimba. Tak ada yang tahu soal itu. Waktu lah nanti yang akan menjawabnya. Apalagi melihat begitu antusiasnya seluruh bangsa ulat menyanbut pagelaran ini. Beritanya pun sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tanggapuj muncul bermacam-macam, dari mulai pujian sampai sindiran yang mendekati nyinyir. Namun ada juga yang tanggapannya hanya sebatas 'no comment'.

Dilema Ibu Bekerja



Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali sampai di rumah dan berkumpul dengan duo sholih tersayang. Itulah kalimat pertama yang melintas di hati sesaat setelah aku mengucap salam, sekembalinya dari dinas luar kota. Dinas yang tidak hanya memakan pikiran, waktu dan energi, tapi juga hati. Hati seorang ibu yang dibungkus rapi agar tetap terlihat tegar, tangguh dan profesional.

Beberapa hari sebelumnya...
Setelah sekian lama aku selalu berhasil menolak tugas dinas ke luar kota yang mengharuskan aku menginap, kali ini aku tak lagi bisa menolaknya. Tugas ini tidak bisa digantikan atau didelegasikan, harus aku yang berangkat. Meninggalkan duo sholih di usia mereka yang masih batita bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang cukup lama untuk akhirnya aku bisa berdamai dengan tugas ini. Bahkan aku sudah pernah mengundurkan jadwalnya. Mencari ide agar bisa mundur lagi dan lagi rasanya tak elok dan tak etis. Akhirnya dengan berat hati, aku mengiyakannya. Menerima tugas ini. Kalaupun secara hati aku tak menerimanya, tetap saja aku yang berangkat. Jadi lebih baik kudamaikan hati dan kuatur startegi.

Rabu, 12 September 2018

Mengajak Anak Berbicara



Ada yang pernah menginterogasi anak? Seperti apakah reaksinya? Beda anak mungkin berbeda tanggapan. Aku termasuk ibu yang sering melakukan hal ini pada anak, bak wartawan mewawancarai sumber berita. Bersyukur sekali, setelah membaca materi komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, pelan-pelan aku mulai merubah polanya, bukan lagi interogasi tapi observasi. Mirip, tapi berbeda. Dan lagi, karena baru tahap awal maka masih banyak yang harus diperbaiki.

Jadi entah kenapa, Agha sangat antipati pada salah satu sepupunya yang berinisial A. Saya sering menanyakannya langsung pada Agha terkait ini, tentunya dengan teknik paparazi. Dan biasanya jawaban Agha hanya sebuah pernyataan bahwa dia tidak suka pada Miss A.

Kali ini, ketika ada kesemptan menanyakan dengan teknik yang lebih halus, maka aku segera mengeksekusinya. Saat kejadian, Agha sedang bermain di teras rumah dengan beberapa buku dan mainannya. Tiba-tiba Miss A datang, hendak ikut main. Melihatnya datang Agha langsung berdiri dan mengusirnya.

Minggu, 09 September 2018

Refleksi Pengalaman



Saat anak GTM (gerakan tutup mulut), para ibu biasanya mulai gegana, gelisah galau merana. Apalagi melihat anak sakit, bukan hanya gegana, tapi gegana plus plus, plus sedih, plus risau, plus khawatir, waswas dan plus plus lainnya. Apapun yang dirasakan, ibu tetap harus setrong, tidak panik dan segera mencari solusi permasalahan. Bisa dengan memberikan ramuan herbal andalan keluarga, memberikan treatment khusus atau membawanya ke dokter untuk pengobatan medis. Sesuaikan dengan keyakinan hati masing-masing. Berikhtiar untuk sembuh dan tetap seiring sejalan dengan berdoa.

Nah, tadi malam, sepupu Agha dibawa ke Rumah Sakit karena diare dan demam tinggi. Karena rumah kami hanya berjarak satu lompatan kaki, maka Agha turut memperhatikan keriwehan orang-orang dewasa yang menyiapkan bekal ke RS. Mbah ibu juga ikut membantu apapun yang bisa dibantu. Dan ternyata fokus Agha adalah mbak Nisrin yang nampak lemas tak bertenaga, digendong oleh ibunya.

Sabtu, 08 September 2018

Menjauhkan Anak dari Gadget



Pagi yang cerah. Matahari bersinar dengan gagah. Ada dua Kupu-kupu hinggap di pohon jeruk di samping rumah. Warnanya kuning dan merah. Birunya langit membuat semarak pagi makin indah. Ah ya, tentu karena hari ini Sabtu, aku di rumah. Jadi seperti apa pun kondisi pagi, aku sambut dengan ramah.

Sabtu ini, permainan yang kurencanakan untuk Agha adalah membuat prakarya dengan menggunting dan menempel kertas. Melatih motorik dan konsentrasinya. Selain itu, aku juga mengagendakan Agha untuk mengamati Bawang merah dan daun bawang yang ditanamnya minggu lalu di plastik bungkus minyak goreng.

Jumat, 07 September 2018

Pasti Bisa


Bagi seorang ibu yang bekerja di ranah publik, saat pulang kerja menjadi momen yang paling ditunggu. Begitu pun aku, senang bukan kepalang. Tentunya karena akan segera bertemu kembali dengan buah hati tersayang.

Dan hari ini momen itu tak kunjung datang. Aku pulang lebih sore dari biasanya. Motor kulajukan dengan kecepatan penuh. Keindahan langit senja dengan warna lembayungnya tak kuhiraukan. Padahal biasanya aku menikmati perjalanan pulang saat melintas di persawahan. Mengagumi ciptaanNya. Menikmati indahnya segerombolan domba yang digembalakan atau padi yang menguning menunggu untuk dipanen. Kali ini fokusku adalah cepat pulang, sampai di rumah dan bertemu dengan duo sholih. Meskipun demikian, saat melewati pasar tiban, kuputuskan untuk membeli kerang hijau siap makan sebagai oleh-oleh untuk Agha dan ayahnya. Setidaknya sebagai ungkapan permohonan maafku yang terlambat pulang.

Sesampai di rumah, Karena Affan sedang asik dengan ayahnya. Aku dan Agha lebih dulu mengeksekusi kerang hijau yang kubawa. Kami pindahkan kerang ke mangkuk agar lebih mudah untuk memakannya. Sayangnya Agha hanya mau kuahnya. Mungkin karena dia kenyang, baru saja selesai makan, sesaat sebelum aku pulang.

Kamis, 06 September 2018

The Power of Comunication


Menjadi ibu dengan dua anak batita adalah sebuah tantangan, apalagi jika menangis bersamaan. Jika tidak bisa mengendalikan emosi, bisa-bisa kemarahan kita turut meramaikan suasana. Dan disinilah serunya menjadi ibu, bukan hanya mengajari anak dengan berbagai hal, tapi juga mengajari diri sendiri. Melatih emosi, memperbaiki komunikasi, menjaga disiplin dan berbagai aspek lain terkait perbaikan diri. 

Nah, sore kemaren, duo sholih tersayang menangis bersamaan saat maghrib datang. Berawal dari Affan yang iseng menggigit mas-nya. Aku kurang cepat melerainya, jadilah Agha yang sakit dengan bekas gigi Affan di tangan menangis dengan kencang. Suaranya menyaingi suara adzan yang mengalun merdu dari mushola di belakang rumah. Saat itu ayahnya belum pulang, untungnya ada mbah ibu yang segera mengambil alih Affan dalam gendongan. Agha ingin membalas Affan tapi dia urung begitu kupeluk, kudekap dan kuajak ngobrol.

Rabu, 05 September 2018

Cerita tentang Orang China part 1

Tiga minggu sudah berlalu sejak kedatangan mereka, para tamu dari China. Mereka adalah teknisi yang dipanggil khusus ke pabrik tempat aku bekerja. Didatangkan secara spesial dari negeri tirai bambu langsung karena harus menangani mesin baru produksi negeri itu juga. Tidak banyak sebenarnya, tiga orang saja. Tapi, pesonanya (ruwet) menghebohkan seluruh penghuni ruangan.

Bagi kami kedatangan mereka ini menarik. Tentu saja karena ini baru pertama kalinya ada orang asing ke pabrik. Apalagi tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama.

Selasa, 04 September 2018

Voucher Belanja 'Iya Boleh' dari Dancow


Beberapa waktu lalu, saat membuka beranda instagram muncullah status dari salah satu produk susu ternama, Dancow. Mereka mengadakan tantangan #IyaBoleh. Temanya kalau tidak salah (karena sudah cukup lama) tentang warna, outdoor dan hewan peliharaan. Tantangannya cukup posting foto terkece anak dengan salah satu tema di atas yang menunjukkan bahwa orangtua mengizinkan mereka bermain dan bereksplorasi. Karena tantangannya mudah, maka dengan mantap saya memutuskan untuk ikut.

Senin, 03 September 2018

Anak Kecil adalah Peniru Terbaik



"Unda, Makan itu duduk, nggak berdiri, apalagi jongkok, jongkok itu pipis sama e'e."

Kalimat itu adalah teguran yang disampaikan Agha, putra sulungku yang usianya baru dua tahun sembilan bulan. Jadi ceritanya aku masih memasak untuk menu makan siang. Karena hampir matang maka aku perlu mengetes rasa. Aku mencicipi masakan dengan sendok kecil dan menumpahkannya di telapak tangan untuk kemudian aku kecap asin, manis pedas dan gurihnya. Ternyata, Agha protes lantaran aku mencicipinya sambil berdiri. Sebenarnya aku ingin protes, cuma nyicipin sedikit. Tapi aku urungkan. Aku cuma bisa nyengir dan salah tingkah menjawab teguran Agha.

"Iya ya, Bunda lupa, terimakasih ya Sayang sudah diingatkan."

Pernah juga ayahnya ditegur karena buru-buru minum sambil berdiri. Agha pun dengan tegas memprotesnya.

"Ayah, minum itu duduk, tidak berdiri kayak embek, sapi sama kebo, hiiii." Agha menegur ayahnya sembari bergidik geli membayangkan hewan yang disebutkan.

Ayahnya cengengesan dan langsung duduk demi memberikan contoh baik pada anak. Aku yang mendengarnya pun tertawa terpingkal-pingkal karena Agha menyamakannya dengan hewan pemakan rumput, tiga sekaligus.

Selasa, 21 Agustus 2018

Titipan Allah Part 1

Hampir tiap perempuan normal pasti memimpikan untuk menjadi ibu. Terlebih jika sudah menikah terhitung tahun, kehadiran anak menjadi doa yang terus diulang di tiap waktu dan kesempatan.

Alhamdulillah, 8 bulan menikah Allah menitipkan janin mungil di rahim yang secara perhitungan sudah memasuki usia dua bulan. Drama pagi pun mulai terasa, mual dan malas makan karena perut terasa penuh dan kembung terus-terusan. Susu hamil pun rasanya tak kuasa masuk ke perut, padahal aku adalah penikmat susu dan berbagai jenis olahannya. Bersyukur perut ini masih bisa menerima beraneka buah segar untuk menjadi asupan. Ya Rabbi, begini tho rasanya, haru biru trimester pertama. Ditambah hormon tidak stabil dan jauh dari suami, bisa tiba-tiba melankolis tingkat dewa. Untungnya suami tipe yang sabar menghadapi istri tercintanya yang kadang manjanya tiada tara dan uring-uringannya bisa datang kapan saja.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Day Care, Solusi Ibu Bekerja

Dewasa ini perempuan, terkhusus istri/ibu yang bekerja di ranah publik semakin menjamur. Dalam satu RT saja sudah tidak bisa dihitung jari, apalagi di lingkungan perkotaan atau kota-kota besar. Banyak alasan yang melatarbelakangi, bisa karena kebutuhan ekonomi yang memang mengharuskan seorang perempuan atau istri ikut membantu mencari nafkah, bisa pula karena bentuk aktualisasi diri, bisa karena hobi, bisa karena nilai kebermanfaatan diri mereka jauh lebih baik saat mereka bekerja. Apapun alasan di balik semua itu, tetap saja tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya. Terlepas dari dia seorang manajer, bankir, pns, guru, karyawan swasta, pedagang, buruh, atau apapun itu nama profesinya, ibu tetaplah pendidik utama dalam sebuah keluarga.

Selasa, 24 Juli 2018

Kelas Semarang Jepara Salatiga Matrikulasi Batch #5 Ibu Profesional

Sore itu terasa begitu sempurna
lembayung mesra memenuhi langit senja
Merona jingga
Persis seperti hati kami yang sempurna bahagia
Terajut dalam satu wadah semarang jepara salatiga

Hampir empat bulan kami bersama
Malam dan siang hari kami terlewati
Dengan saling berbagi
Mencerna tiap materi
Dan canda tawa layaknya sahabat lama
Bahkan bak sebuah keluarga

Padahal,
Kami adalah orang-orang asing
Dengan tujuan dan mimpi yang sama
Menjadi ibu profesional yang bahagia
Kebanggaan keluarga

Minggu, 10 Juni 2018

Petasan

Siapa yang tidak tahu petasan? Sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah saat Ramadhan petasan turut serta memeriahkan, pun ketika lebaran. Tapi saya tidak bisa menemukan korelasi antara Ramadhan dengan petasan. Justru menurut saya ini adalah hal yang aneh dan mubadzir. Memeriahkan Ramadhan seharusnya diisi dengan hal-hal baik sesuai syariat, sesuai aturan agama islam. Ada banyak cara, misalnya dengan memperbanyak tadarus, berbagi takjil, memberi makan berbuka orang berpuasa, menghadiri majlis taklim, berbagi pakaian kepada anak yatim maupun dhuafa, dan masih banyak kegiatan positif lain yang bermanfaat.

Herannya, kebiasaan menyalakan petasan di bulan Ramadhan masih lestari sampai saat ini, bukan hanya anak-anak kecil, tapi kalangan dewasa pun ada yang ikut melakukannya. Bedanya, jika anak kecil petasannya sekelas teri atau yang biasa disebut mercon. Orang-orang dewasa agak lebih bergengsi, mereka menggunakan kembang api yang bisa membumbung tinggi ke angkasa, menghadirkan cahaya yang berwarna warni, indah dipandang tapi berisik untuk didengar.

Sabtu, 09 Juni 2018

Mudik Lebaran

Setelah menjalani satu bulan penuh puasa selama Ramadhan, maka setelahnya umat muslim merayakan idul fitri atau yang biasa kita sebut lebaran. Lebaran identik dengan mudik. Pada momen ini, orang-orang perantauan memanfaatkannya untuk kembali ke kampung halaman. Ada juga yang memanfaatkannya untuk berkunjung ke mertua atau saudara jauh. Lebaran menjadi momen yang sangat pas untuk saling bersilaturrahim. Mudik menjadi ciri khas, budaya bahkan seolah menjadi sebuah keharusan saat lebaran tiba.

Berbicara soal mudik, kiranya tidak akan pernah lepas dengan tiket. Sarana transportasi dipilih, biasanya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan mudik, disesuaikan dengan kantong pribadi masing-masing. Banyak orang memilih kereta api sebagai sarana transportasi untuk mudik. Tiket kereta bisa dipesan dan dibeli tiga bulan sebelum keberangkatan. Biasanya langsung ludes, berebut. beruntungnya sekarang ini, zaman now, pembelian tiket tidak perlu antri mengular seperti dulu kala. Cukup duduk manis di depan laptop/komputer atau bahkan dengan sambil bermalasan tidur-tiduran dengan menggunakan gawai, sudah melakukan pemesanan.

Selasa, 05 Juni 2018

Agha dan Cerita Para Nabi



Ahad kemaren saya membersamai Agha main di halaman rumah. Waktu itu adek Affan tidur lelap di ayunan yang biasa kami sebut dondang (bahasa lokal). Agha asik berlarian di halaman dengan mbak Nisrin, sepupunya. Ada saja yang mereka kerjakan sepanjang hari ini, dari bermain lego, mobil-mobilan, miniatur hewan dan beralih ke puzzle hijaiyah. Bosan dengan itu semua, mereka pindah ke halaman, bermain tanah dan kerikil, berlanjut dengan berlarian kejar-kejaran.

Saat sudah kelelahan mereka memilih duduk di lantai teras depan dengan ngos-ngosan. Tiba-tiba Agha berceloteh, "Nda, cerita."

"Eh, mau cerita apa?" tanya saya agak kaget dengan permintaannya yang tiba-tiba.
"Eman Nda," pinta Agha dengan mantap.
"Ha? Eman apa Sayang?" kadang saya masih belum bisa menerjemahkan bahasanya yang khas anak kecil, belum sempurna dan kurang jelas. Agha nampak kesal karena saya tidak memahami bahasanya.
"Eman Nda, sama semut," jawab Agha dengan cemberut. Nisrin di sebelahnya hanya mendengarkan dan memperhatikan kami bercengkrama.
"Owalah, Nabi Sulaiman dan Semut?"
"He'eh," jawab Agha sembari mengangguk.

Minggu, 03 Juni 2018

Adakah Remaja dalam Islam?



Setelah hampir satu minggu saya melewati hari tanpa menulis, dan saya tertinggal beberapa challenge, malam ini saya memaksakan diri untuk kembali menulis. Temanya tentang remaja. Awalnya bingung, subtema apa yang akan saya angkat terkait remaja. Bersyukur bisa menemukan titik terang di detik-detik terakhir, injury time.

Remaja, terlintas di pikiran, beda enggak ya sama pemuda? Dari beberapa yang saya baca ternyata pemuda dan remaja berbeda. Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada periode ini mereka, para remaja dalam proses pencarian jati diri, mendefinisikan dirinya sendiri.

Adapun pemuda adalah masa dewasa awal. Pada periode ini mereka, para pemuda membangun pribadi yang mandiri dan terlibat secara sosial. Yang artinya mereka telah selesai dengan dirinya, sudah mendefinisikan diri mereka sendiri, mengenal dirinya sendiri.

Nuzulul Qur'an


Nuzulul quran secara harfiah adalah gabungan dua kata bahasa arab, nuzul dan quran. Nuzul artinya turun, tiba, atau sampai, sedangkan Alquran, banyak perselisihan pendapat terkait ini, namun mayoritas ulama' berpendapat bahwa Alquran berasal dari kata qoro'a yang artinya membaca, dan alquran adalah bentuk masdarnya, yang artinya bacaan. Secara keseluruhan nuzulul quran dapat diartikan turunnya Alquran. Menurut istilah nuzulul quran adalah peristiwa penting turunnya Alquran dari lauhul mahfudz ke baitul izzah di langit dunia. Kemudian secara berangsur-angsur firman Allah tersebut diwahyukan kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun.

Alquran yang kita kenal sekarang dan biasa kita baca saat ini terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat yang dibuka dengan surat Alfatihah dan diakhiri dengan surat Annas. Adapun  surat pertama yang diturunkan adalah surat Alalaq ayat 1 - 5, yang berisi tentang perintah membaca. Ayat tersebut diturunkan di gua Hira' pada saat nabi Muhammada berusia 40 tahun. Dengan turunnya ayat ini, menjadi awal dari masa kenabian. Adapun surat terakhir yang diturunkan adalah surat almaidah ayat 3, yang berisi tentang telah sempurnanya agama Islam. ayat ini turun di Arafah pada saat haji wada'. Dengan turunnya ayat ini seolah menjadi salah satu penanda detik-detik menjelang perpisahan dengan baginda Rasul.

Sebagian besar ulama sepakat bahwa malam nuzulul quran adalah tanggal 17 Ramadhan, hal ini berdasarkan quran surat Albaqarah ayat 185 :

Jumat, 25 Mei 2018

Kebutuhan saat Lebaran meroket? Ini tipsnya!



Hai gaess, menjelang lebaran seperti saat ini biasanya pusat perbelanjaan baik pasar maupun mall sangat ramai, penuh sesak bahkan seringkali melebihi keramaian masjid, terutama lapak baju. Mungkin karena sudah membudaya di negeri kita tercinta, lebaran identik dengan baju baru. Padahal penyanyi cilik dulu sudah jelas menyanyikan lagu yang liriknya sangat bagus, " Baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa masih ada baju yang lama."

Nah, buat para bunda yang galau memetakan uang belanja untuk kebutuhan lebaran, ada baiknya ikuti tips di bawah berikut ini:

Kamis, 24 Mei 2018

Tujuh Hari Puasa



Tak terasa waktu berlalu teramat cepat, sudah tujuh hari kita menjalankan puasa. Tersisa tiga minggu lagi untuk mengisi Ramadhan, mengejar ketertinggalan. Yuk, mari kita evaluasi bersama, sudah sejauh mana tadarus kita? Sudah rutinkah tahajud kita? Bagaimana dengan dhuha? Lalu, tarawih, adakah yang terlupa dan kita absen darinya? Masih sempatkah kita berghibah? Ah, deretan pertanyaan ini hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya sejujur-jujurnya. Jadi, apapun jawabannya, selama Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bernafas di bulan Ramadhan ini, mari kita manfaatkan baik-baik, menambal yang harus dibenahi.

Rabu, 23 Mei 2018

Cerita Tarawihku



Suara adzan berkumandang, memanggil umat islam agar segera berdatangan ke mushola atau masjid, mendirikan sholat berjamaah. Dengan perut kenyang setelah berbuka, mereka tetap bersemangat, bergulir ke mushola. Gesekan suara sandal dengan ubin di gang sebelah rumah sesekali terdengar, tanda mereka terburu-buru takut tertinggal. Ada pula suara riuh anak-anak diiringi canda tawa, yang berjalan ke mushola, ingin ikut melantunkan puji-pujian sembari menunggu imam datang. Ada juga yang datang dengan langkah gontai, entah kekenyangan berbuka atau justru karena lapar belum makan besar, baru sekedar takjil. Pemandangan dan suara-suara tersebut sudah menjadi rutinitas harian, apalagi saat Ramadhan seperti sekarang, jumlah mereka bisa naik hampir dua kali lipat dibanding hari biasa.

Aku duduk di kursi depan sembari mengamati, menikmati pemandangan ini setiap hari. Sudah tiga tahun berlalu, aku tidak bisa menjadi bagian dari para jamaah tarawih. Ingin rasanya segera wudhu dan berlari ke mushola. Rasa rindu ini teramat sangat, menyeruak. Merindui tarawih dengan rakaat-rakaatnya, mengikuti irama para imam.

Selasa, 22 Mei 2018

Semarak Ramadhan di Desa


Ramadhan , bulan dimana pahala dilipatgandakan. Di bulan ini, Orang-orang beriman saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Mushola maupun masjid menjadi sangat ramai dan lebih hidup dibanding bulan lain.

Di desa saya, desa dengan lanskap persawahan dan dikelilingi sungai-sungai besar di kanan dan kirinya, hampir tiap mushola selalu ada agenda tadarus sehabis sholat isya saat bulan Ramadhan. Agenda ini sudah membudaya sejak saya masih kecil atau bahkan mungkin sejak orangtua saya kecil. Pengeras suara mushola mengudara dengan lantunan ayat-ayat Alquran hingga malam. Anak-anak kecil berkerumun menjadi pendengar, menyimak ayat-ayat Allah. Pada gilirannya mereka juga membaca untuk disimak oleh orang dewasa, dan dibenarkan bacaannya jika ada yang tidak sesuai entah tajwid maupun makhorijul hurufnya.

Senin, 21 Mei 2018

Sahur Terakhir Bersama Ibu


Hai, perkenalkan namaku Fatima. Usiaku saat ini 15 tahun dan duduk di bangku kelas IX SMP Islam di kota kecamatan. Aku tinggal berdua dengan ayah. Kalian tahu? Saat Ramadhan tiba, orang lain akan mengingatnya dengan bulan yang penuh rahmat, bulan penuh berkah dan bulan penuh maghfirah. Tapi bagiku bulan Ramadhan adalah bulan kehilangan terbesar dalam hidupku. Aku menjadi sangat sentimentil di bulan ini. Apalagi ketika datang waktu sahur, maka yang terlintas di pikiranku adalah sosok ibu. Ibu yang selalu aku rindukan tapi hadirnya kembali disini hanyalah khayalan.

Ibuku sudah meninggal lima tahun lalu, saat Ramadhan. Waktu itu, ibu masih menyiapkan sahur, tiba-tiba ibu bilang dadanya sesak. Aku yang masih mengantuk dan berjalan ke kamar mandi tidak begitu peduli, pun ayah yang masih asik dengan tasbihnya di ruang sholat. Saat kembali dari kemar mandi, aku terheran-heran melihat ibu ketiduran di kursi makan. Apalagi mendapati belum ada makanan tersaji, baru ada beberapa potong tempe yang belum digoreng.

Sabtu, 19 Mei 2018

Ramadhan, Bulan Penuh Takjil



Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh berkah dan juga bulan yang penub takjil. Salah satu hal yang menyenangkan dan wajib disyukuri saat Ramadhan bagi saya adalah jam kerja yang lebih pendek, atau lebih tepatnya jam pulang kerja yang lebih awal. Kalau biasanya, secara normatif kami seharusnya pulang jam 16.30, saat Ramadhan kami bisa pulang pada jam 16.00. Secara total jam kerja masih sama, karena kami hanya menyiasati jam istirahat, memangkas jam makan. Kalau pada hari biasa jam istirahat kami adalah, 12.00 - 13.00, di bulan yang penuh maghfirah ini kami hanya istirahat 30 menit, yaitu 12.30 - 13.00.

Tahu mengapa ini menyenangkan buat saya? karena sampai di rumah masih terang benderang, masih ada waktu untuk menyiapkan buka, termasuk menu takjil. Dan, karena belum terlalu sore, saat di jalan saya tidak terjebak macet kerumunan orang yang menghabiskan waktu untuk ngabuburit mencari takjil.

Buka Bersama



Teman kerja saya hampir semuanya perempuaan, hanya ada segelintir laki-laki. Tiada hari tanpa obrolan. Begitu lah hari-hari kami lalui. Berbagai topik dibahas, dari mulai make up, cafe baru, fashion, kuliner, film, artis fenomenal bak lucinta luna, tragedi atau apapun yang sedang hits bahkan sampai es kepal milo pun tak luput dari percakapan harian. Nah, beberapa hari yang lalu sebelum memasuki Ramadhan, kami berkomitmen untuk saling memgingatkan kalau puasa nanti membicarakan orang a.k.a ghibah. Jadilah kami melalui hari pertama dan kedua dengan sedikit obrolan, menghemat suara, menghemat energi. Biasanya kami mulai ngobrol dan ramai kembali nanti saat membicarakan buka bersama a.k.a bukber.

Berbicara soal bukber, tahun-tahun sebelumnya kami biasa bukber di resto hotel, menikmati paket promo Ramadhan yang ditawarkan. Untuk pemilihan hotel, kami sengaja menggilir hotel-hotel yang belum pernah kami jajaki. Apalagi beberapa tahun ini muncul banyak hotel cukup berkelas di Pekalongan. Jika dua tahun lalu kami memilih hotel Dafam, tahun berikutnya kami memilih hotel Santika, pernah pula kami memilih hotel Horison.

Kamis, 17 Mei 2018

Selamat Datang Ramdahan


Pernah mendengar puji-pujian di mushola atau masjid setelah adzan sembari menunggu jamaah sholat dimulai? salah satu yang sering saya dengar adalah doa Allhumma barik lana fi rojaba wa sya'bana wa ballighna romadhon yang artinya Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rojab dan bulan Sya'ban dan perjumpakanlah kami pada bulan Ramadhan.

Alhamdulillah hari ini kita telah sampai pada bulan Ramadhan 1439 Hijriyah. Bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim, bulan dimana setiap amalan dilipatgandakan. Bulan yang penuh rahmat dan maghfirah. Bulan yang didalamnya ada malam yang lebih baik dari malam seribu bulan, yaitu lailatul qodar dan Bulan dimana Alquran diturunkan, Nuzulul Quran.

Sirup untuk Ramadhan


Alhamdulillah, kita bisa dipertemukan lagi dengan ramadhan, bulan yang penuh berkah. Bagi para ibu maupun istri salah satu hal yang menjadi fokus tambahan saat Ramadhan adalah menu buka dan sahur. Karena umumnya sesuai budaya kita, urusan dapur ada di bawah komando seorang istri dan atau ibu. Jadi sudah menjadi keharusan bagi seorang perempuan untuk bisa mengatur urusan dapur sebaik mungkin, bukan hanya menjadi koki alias tukang masak, tapi juga harus menjadi ahli gizi, yang bisa menimbang kebutuhan gizi keluarga, menyiapkan menu seimbang, terutama saat Ramadhan. Memastikan menu sahur bisa mencukupi kebutuhan gizi dan energi sepanjang hari serta memastikan menu buka tidak terlalu berat dan berlebihan.

Di bulan Ramadhan, Menu yang hampir tidak pernah absen di meja makan saat buka puasa adalah es, baik itu es kelapa muda, es timun suri, es blewah, es jus, es buah, es doger, es teler dan es es yang lain. Es ini seolah menjadi wajib untuk mengobati dahaga sepanjang hari. Apalagi kita memang dianjurkan untuk berbuka dengan sesuatu yang manis, maka es bisa menjadi alternatif selain kurma yang memang disunahkan.

Dari beberapa es yang saya sebutkan di atas, hampir semuanya menggunakan sirup sebagai bahan pemanis baik itu simple sirup (gula cair), sirup gula merah, maupun sirup yang terkenal seperti di pasaran saat ini. Sirup memang memberikan aroma dan citarasa tersendiri pada es. Sebagai contoh es buah, pasti akan tampak lebih segar dan menggoda selera dengan tambahan sirup cocopandan, warnanya menjadi mewah dan meriah. Adapun untuk es degan, menurut saya cukup menggunakan sirup gula merah, rasanya sudah sangat wah di lidah.

Minggu, 13 Mei 2018

Affan Doyan Makan

Affan, lengkapnya Hayyan Ahmad Affandi, putra kedua kami, bulan lalu usianya tepat 6 bulan, yang artinya waktunya makan, MPASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya, karena ASI / Sufor saja tidak cukup. Belajar dari anak pertama, Mas Agha yang menu tunggal pertamanya adalah pisang, dan menghargai budaya disini, manut mbah bu nya, maka hari pertama saya menyediakan pisang ambon untuk Affan. Dan ternyata ekspresinya adalah hueks, mual. Kaget? Iya, karena dulu Agha sangat lahap makan pisang, bahkan sampai sekarang. Ah, mungkin karena baru kenal rasa pisang, makanya muntah, pemikiran saya waktu itu. Esoknya saya coba lagi, saya menyediakan pisang, bukan lagi ambon tapi pisang hijau yang warnanya kekuningan. Saya kira Affan bisa mulai menerimanya, ternyata saya salah, ekspresinya masih sama, mual seperti mau muntah. Saya mulai berpikir sebaiknya saya ganti, coba variasi yang lain.


Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...