Minggu, 07 Januari 2018

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih terarah dan anak mencapai kecakapan tertentu seperti yang kita inginkan. Nyatanya kadang rencana tersebut hanya jalan berapa persen atau gagal total, tergantung kondisi anak. Kalau anak memang sama sekali tidak berminat tidak mungkin kita paksakan. Justru kita yang harus melakukan evaluasi, bisa jadi permainan yang kita siapakan kurang menarik atau justru kurang menantang!
Namun tidak jarang juga permainan yang kita siapkan berhasil, anak antusias, menikamti permainan dan goal yang kita tuju tercapai.
Lalu, mana yang lebih utama? Bermain terencana atau spontan??
Dua-duanya penting untuk tumbuh kembang anak.


Bermain terencana dengan orangtua sebagai fasilitator, menyiapkan materi, alat bermain/mainan, dan memberikan arahan bisa membantu anak/menstimulus anak dalam beberapa ketrampilan / kecakapan yang dibutuhkan. Bahkan bisa membantu anak menerima arahan dan memahami batasan-batasan tertentu. Misal Mas Agha belum bisa lompat, maka butuh permainan yang bisa menstimulasi gerakan lompat/motorik kasarnya. Bisa bermain ingkling (saya kurang paham bahasa indonesianya apa, heheheh), atau memasukkan bola ke ember yang diletakkan agak tinggi (basket abal2), atau yang lainnya.

Kalau bermain spontan juga sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Anak bebas bermain sesukanya. Bermain bebas ini bisa membantu anak untuk berkreasi suka-suka, mengembangkan imajinasinya dan bisa membantu anak mengekspresikan perasaannya yang berdampak pada kecerdasan emosional dan mental.
Nah, malam ini mas Agha main suka-suka. Material yang dipilih buku, mobil, truck dan miniatur hewan-hewan. Tiba-tiba mas Agha ambil kertas bekas katalog toko *nd*ma*et minta untuk dibuatkan perahu (maklum belum punya perahu mainan).
Setelahnya hewan-hewan dimasukkan ke perahu dan diangkut truk. Katanya hewan-hewannya mau jalan-jalan.
Nah di tengah-tengah permainan ini emaknya berusaha menyelipkan kisah kapal nabi Nuh yang juga mengangkut hewan-hewan.
Adapun buku cergam di gambar belum sempat aku tanyakan apa maksudnya, keburu dedek Affan bangun 😁




1 komentar:

  1. Yang dibutuhkan anak2(terutama balita), memang orang dewasa yang menemani mereka bermain dengan memberikan perhatian penuh mba..

    BalasHapus

Gaes, menulis adalah kolaborasi antara hati, jiwa dan pikiran kita.Jika berkenan silahkan tinggalkan saran, kritik, atau sekedar tanggapan kalian.
terimakasih untuk meninggalkan jejak langkah disini, :)

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...