Kamis, 08 November 2018

Gadis Kecil di Stasiun


Siang ini panas begitu terik. Udara terasa mencekik. Berkali-kali aku melihat jam merah marun yang melingkar di tangan. Jadwal kereta yang akan membawaku ke Surabaya masih 1 jam lagi. Ransel merah yang penuh dengan baju untuk dua hari kuletakkan di lantai, menjadi sandaran kaki. Iseng, aku mengamati flat shoes beludru kesayanganku. Warna marunnya kini semakin memudar karena terlalu sering kupakai. Jenuh dengan kesendirian, Aku memilih untuk berselancar di instagram.

Sebenarnya salahku sendiri yang datang terlalu dini. Aku takut terlambat seperti tiga bulan lalu. Mau tak mau aku harus memilih bis sebagai pengganti kereta yang meninggalkanku. Belajar dari pengalaman, aku berangkat dari rumah satu jam lebih awal. Tiba di Stasiun masih sangat lengang, belum ada penumpang Argo Bromo Anggrek satu pun. Baru ada beberapa penumpang kereta Kaligung yang akan menuju Semarang. Aku bukannya sok tahu, aku tahu karena saat Kaligung datang dari Tegal, satu per satu dari mereka masuk ke dalam, meninggalkanku sendirian di ruang tunggu.

Minggu, 04 November 2018

Mengenalkan Permainan Tradisional "Ingkling"


Bagi emak-emak yang lahir sebelum tahun 90an, hampir pasti mengenal permainan ingkling.  Kenapa saya menyebut sebelum tahun 90an? Karena makin kesini, ingkling makin jarang dimainkan. Apalagi anak zaman now, sebagian mereka lebih memilih game atau berjibaku dengan gadget. Padahal hampir tiap daerah mengenal permainan ini, meski mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya engklek, dengkleng, teprok dan masih banyak nama lain yang digunakan.

Ingkling adalah permainan yang melatih motorik kasar anak. Permainan ini mengandalkan gerak aktif para pemainnya sehingga sangat bagus untuk tumbuh kembang dan kesehatan anak serta melatih keseimbangan karena menggunakan satu kaki untuk melompat dari kotak ke kotak. Ingkling biasanya dimainkan oleh dua orang atau lebih, bahkan bisa sampai lima orang. Mereka saling bergantian menunggu giliran mainnya tiba. Biasanya penentuan giliran menggunakan hompimpa atau suit jika hanya dua orang.

Bagimana cara memainkannya?

Kamis, 01 November 2018

Meningkatkan Kecerdasan Anak



Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk sampai di Bulan November, bulan ketiga kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesioal. Tema besar pada tantangan kali ini adalah Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak Demi Kebahagiaan hidup. Tema yang menarik karena pastinya tiap orang ingin bahagia. Begitu pun, anak-anak kita, ingin bahagia mengarungi bahtera kebidupan.

Senin, 29 Oktober 2018

Sudahkah Profesi Kita sesuai Passion?



Tiap bicara profesi, hal yang menarik bagiku adalah passion. Sudahkah profesi kita sesuai passion? Kata Rene Suhardono, passion adalah bahasa jiwa, apa yang membuat kita nyaman, segala sesuatu yang kita cintai. Jadi ketika profesi yang kita jalani saat ini sudah sesuai passion, maka akan sangat produktif lah kita, karena kita menjalankannya dengan cinta. Bukan semata-mata karena uang atau gaji.

Seringkali kita mendengar atau bahkan menemukan pekerjaan seseorang yang tidak sesuai jurusan saat kuliah. Ada yang jurusannya di Biologi, ternyata lulus menggeluti dunia fotografi. Ada lulusan Ekonomi lulus memilih untuk menjadi koki. Ada lulusan pertanian lulus menjadi bankir profesional. Ada pula jurusan ekonomi lulus memilih fokus pada desain grafis. Deretan contoh tersebut bisa dikarenakan memang seseorang memilih untuk setia pada passionnya atau justru karena kondisi yang memaksa seseorang ada pada posisi tersebut.

Bagi ku, orang yang bisa bekerja sesuai passionnya sangat beruntung. Bahkan aku salut pada mereka. Apalagi yang rela keluar dari zona nyaman demi untuk merealisasikan mimpi dan mengembangakn bakat sesuai passionnya.

Bermain di Alam Terbuka (Part 1)

Weekend adalah hari yang paling kutunggu dalam sepekan. Bukan karena tidak mencintai pekerjaan, tapi karena saat weekend aku bisa full membersamai duo sholih, Agha dam Affan. Menjadi quality time kami yang cukup efektif. 

Minggu ini agenda kami adalah dolan ke kebonan, belajar dari alam. Tidak jauh dari rumah, berjarak sekitar empat rumah, kami bisa menemukan sungai kecil yang beriak kecil dan jernih. Di sebelahnya ada persawahan dan kebun milik tetangga yang masih rimbun. Beberapa tumbuhan liar masih tumbuh disini. Kupu-kupu, kadal,  kodok, ulat juga bisa ditemui. Jika beruntung kami masih bisa menikmati kicauan burung yang singgah di dahan-dahan pohon. Ini adalah salah satu keuntungan hidup di desa, belajar dari alam secara gratis.

Penulis Pemula



Kemaren malam, saat duo sholih sudah lelap, aku mengintip WA. Ada nama tetangga yang tak biasa muncul di beranda secara tiba-tiba. Karena usia kami terpaut cukup jauh, selama ini kami jarang atau bahkan tak pernah benar-benar saling berkomunikasi. Seingatku sejauh ini kami hanya bertegur sapa dengan senyum ketika berpapasan. Selebihnya hanya chat WA saat dia menanyakan lowongan pekerjaan di pabrik tempat aku mengais rezeki. Itupun sudah cukup lama.

"Mba ela penulis? Aku suka kagum sama orang yang bisa nulis, tips dong mba 😄"

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...