Selasa, 18 September 2018

Cerita tentang Orang China Part 2


Hampir satu bulan ini, hari-hari kami di kantor dipenuhi interaksi dengan teknisi dari China. Dua orang asing yang tak asing lagi. Tak terasa ternyata waktu berjalan teramat cepat. Sudah saatnya para tamu ini kembali ke negri asalnya.

Beberapa hari sebelumnya kami sudah menanyakan ke pihak user terkait kepulangan mereka. Mengingat visa mereka yang hampir habis. Melihat reaksi user yang santai, kami pikir mungkin akan diperpanjang. Hari demi hari pun berlalu, dan kami asik dengan kesibukan lain.

Menjawab Pertanyaan Anak


Apakah anak-anak kalian sudah mulai bertanya macam-macam? Jika jawabannya 'iya' maka sama, Agha pun demikian. Ia mulai bertanya macam-macam yang terkadang membuat dahi ini mengkerut dan bibir mengerucut. Mungkin fitrah belajarnya sudah mulai tumbuh, hingga ia mulai menanyakan tiap hal yang menurutnya aneh atau memang dia tidak tahu dan ingin tahu. Usia Agha saat ini tiga tahun kurang dua bulan. November nanti baru memasuki tahun ketiga usianya. Di tahun ini, rasa ingin tahunya berkembang pesat.

Sebenarnya aku suka sekali tiap Agha menanyakan sesuatu. Apalagi jika aku bisa menjawabnya dengan lancar bak seorang ahli, puas dan bangga sekali rasanya. Ditambah lagi melihat binar mata Agha yang juga puas dengan jawaban bundanya.  Makin mekar hidung ini sangkin senangnya. Mungkin seperti inilah perasaan seorang guru saat menjelaskan kepada anak didiknya yang berbinar-binar.

Minggu, 16 September 2018

Dua Malaikat

Malam kian larut
Rasa ini semakin akut
Berharap gayung bersambut
Dan engkau hadir
Membawa senyummu yang nyinyir

Tlah kusiapkan seember air
Tuk kuserahkan padamu
Agar kau tahu bagaimana rasanya bau anyir

Wahai kau pelaku media
Tidakkah kau tahu
Ada dua malaikat di bahumu
Raqib dan Atid namanya
Perlukah kujelaskan tugas mereka?

Oh, bahkan kau baru tahu namanya dariku?
Sungguh,
Apa saja yang kau lakukan sepanjang hari
Memebar kebencian?
Memicu masalah?
Atau justru menebar fitnah?
Atau jangan-jangan kau hanya bisa membalas komentar orang dengan nyinyir?
Malangnya nasibmu

Sini, mendekatlah
Kubisiki sesuatu tentang dua malaikat di bahumu

Mereka adalah malaikat penulis kisah
Cerita tiap manusia
Untuk nantinya menjadi sejarah
Baik atau burukkah sikapnya di dunia
Temasuk sikap di sosial media
Jadi tak elok lah kalau kau sholat tiap waktu
Nyatanya tanganmu kau gunakan untuk hal seperti itu

Kami semua sayang padamu,
Karena kami tak mau menjadi korbanmu
Salam dari kami yang mencintaimu.


Meminta Izin Anak


Setelah hari sebelumnya sukses meminta restu dari ayahnya duo sholih untuk dinas luar kota, selanjutnya giliran izin dari duo sholih. Lebih tepatnya mungkin pamit. Kalau Affan belum begitu paham terkait hal ini, tapi Agha sudah mengerti sehingga butuh ekstra strategi agar tujuan bisa tercapai.

Malam hari saat kami bermain bersama, Agha minta dibacakan buku cerita. Saat itulah aku berusaha menyampaikan rencanaku.

Sabtu, 15 September 2018

Ulat Tercantik

Tak tahu siapa awalnya yang memulai, tapi ini benar-benar terjadi. Sederetan ulat sedang berlenggak lenggok dengan gemulai di atas panggung. Panggungnya amat megah, dari gabungan kelopak bunga-bunga langka di negeri rimba. Para penonton yang juga terdiri dari bangsa ulat nampak berkerumun. Mereka menjagokan masing-masing sukunya.

Hari ini adalah babak grand final penentuan ulat tercantik. Julukan yang terlilih nantinya adalah Miss Ulat Rimba 2018. Ajang ini menjadi ajang pertama dan satu-satunya di negeri rimba. Entah jika nantinya akan bermunculan ajang yang serupa di seluruh penjuru rimba. Tak ada yang tahu soal itu. Waktu lah nanti yang akan menjawabnya. Apalagi melihat begitu antusiasnya seluruh bangsa ulat menyanbut pagelaran ini. Beritanya pun sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tanggapuj muncul bermacam-macam, dari mulai pujian sampai sindiran yang mendekati nyinyir. Namun ada juga yang tanggapannya hanya sebatas 'no comment'.

Dilema Ibu Bekerja



Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali sampai di rumah dan berkumpul dengan duo sholih tersayang. Itulah kalimat pertama yang melintas di hati sesaat setelah aku mengucap salam, sekembalinya dari dinas luar kota. Dinas yang tidak hanya memakan pikiran, waktu dan energi, tapi juga hati. Hati seorang ibu yang dibungkus rapi agar tetap terlihat tegar, tangguh dan profesional.

Beberapa hari sebelumnya...
Setelah sekian lama aku selalu berhasil menolak tugas dinas ke luar kota yang mengharuskan aku menginap, kali ini aku tak lagi bisa menolaknya. Tugas ini tidak bisa digantikan atau didelegasikan, harus aku yang berangkat. Meninggalkan duo sholih di usia mereka yang masih batita bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang cukup lama untuk akhirnya aku bisa berdamai dengan tugas ini. Bahkan aku sudah pernah mengundurkan jadwalnya. Mencari ide agar bisa mundur lagi dan lagi rasanya tak elok dan tak etis. Akhirnya dengan berat hati, aku mengiyakannya. Menerima tugas ini. Kalaupun secara hati aku tak menerimanya, tetap saja aku yang berangkat. Jadi lebih baik kudamaikan hati dan kuatur startegi.

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...