Minggu, 10 Juni 2018

Petasan

Siapa yang tidak tahu petasan? Sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah saat Ramadhan petasan turut serta memeriahkan, pun ketika lebaran. Tapi saya tidak bisa menemukan korelasi antara Ramadhan dengan petasan. Justru menurut saya ini adalah hal yang aneh dan mubadzir. Memeriahkan Ramadhan seharusnya diisi dengan hal-hal baik sesuai syariat, sesuai aturan agama islam. Ada banyak cara, misalnya dengan memperbanyak tadarus, berbagi takjil, memberi makan berbuka orang berpuasa, menghadiri majlis taklim, berbagi pakaian kepada anak yatim maupun dhuafa, dan masih banyak kegiatan positif lain yang bermanfaat.

Herannya, kebiasaan menyalakan petasan di bulan Ramadhan masih lestari sampai saat ini, bukan hanya anak-anak kecil, tapi kalangan dewasa pun ada yang ikut melakukannya. Bedanya, jika anak kecil petasannya sekelas teri atau yang biasa disebut mercon. Orang-orang dewasa agak lebih bergengsi, mereka menggunakan kembang api yang bisa membumbung tinggi ke angkasa, menghadirkan cahaya yang berwarna warni, indah dipandang tapi berisik untuk didengar.

Dari beberapa sumber yang saya baca, hampir semua sepakat bahwa petasan berasal dari negeri china atau tiongkok. Merekalah yang pertama kali menggunakan petasan. Di Indonesia petasan dibawa langsung oleh para pedagang Tiongkok, sedangkan masyarakat eropa mengenal petasan yang dibawa dari Tiongkok oleh Marcopolo, seorang penjelajah dari Italia. Setelah masuk ke Eropa, bubuk mesiu ini dimanfaatkam dan dikembangkan untuk membuat senjata sepeti meriam dan senapan.

Legenda yang beredar dipercaya bahwa bubuk mesiu sebagai bahan dasar petasan ditemukan oleh seorang juru masak yang tanpa sengaja mencampur beberapa bahan bubuk di dapurnya dan memasukannya ke dalam bambu, saat dipanaskan terjadi ledakan dan bunyi yang menggelegar. Namun ada yang berpendapat lain bahwa bubuk mesiu pertama kali digunakan oleh pendeta bernama Li Tian dari provinsi Yunan, sekitar abad ke 9 Masehi pada masa dinsati Song. Pendeta ini membuat petasan untuk mengusir roh jahat. Masyarakat percaya roh jahat ini akan pergi karena ketakutan mendengar bunyi yang menggelegar.

Saya termasuk orang yang tidak suka dengan petasan, tidak suka mendekati takut, tapi saya bukan roh jahat. Saya manusia biasa, hehehehe. Saya takut terkena ledakannya. Efeknya bisa sangat fatal. Ada kisah fenomenal di desa saya, salah satu tetangga kehilangan jari tangannya karena bermain petasan saat kecil di bukan Ramadhan. Niatnya hanya bermain-main, tapi akibat yang ditimbulkan ditanggung seumur hidup. Mengerikan bukan? Namun penyesalan sudah tiada gunanya, nasi sudah menjadi bubur, jari sudah terlanjur rusak dan lebur.

Lebih mengerikannya lagi karena sebagian besar yang bermain petasan adalah anak-anak kecil. Bocah yang secara kejiwaan belum stabil, belum matang sempurna, emosi masih sering meledak dan belum terkontrol. Bagaimana jika petasan dilemparkan ke orang lain atau ke anak lain hanya untuk iseng atau usil? Maka seharusnya peran orangtua disini sangat penting. Menghimbau dan menjelaskan tentang bahaya petasan kepada anak-anak serta melarang mereka bermain-main dengannya. Percuma pemerintah membuat aturan pelarangan dan batasan petasan jika orangtua, yang menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak tidak menanamkan nilai ini. Jika anak tetap memaksa bermain petasan arahkan mereka ke permainan lain yang lebih bermafaat. Banyak lo permainan tradisional yang seru dan berfaedah, misalnya ingkling, congklak, bentengan, tendang kaleng, mboren, jambrotan dan masih banyak lagi.

Saya punya pengalaman yang patut saya syukuri terkait petasan. Waktu itu malam takbiran, saya lupa tahun berapanya, mungkin sebelum tahun 2010. Saya dan adik saya ada keperluan membeli sesuatu ke kota. Keramaian ada dimana-mana. Alhadmulillah kami bisa melewati kemacetan dan melalui gang-gang kecil perumahan warga. Sayangnua, di hampir semua ruas jalan kampung tersebut, anak-anak kecil bermain petasan yang cara membunyikannya harus dibanting baru akan meledak. Entah karena iseng atau tidak sengaja anak-anak kecil melemparkan mercon itu ke arah saya dan mengenai kaki, mendarat dan diam di paha saya. Kaget bukan kepalang, saya membuang dan melempar mercon tersebut ke jalan. Bum, meledak. Alhamdulillah mercon tersebut tidak meledak di kaki saya. Semenjak saat itu saya semakin ngeri kalau melihat anak kecil bermain petasan. Berkali-kali saya mewanti-wanti pada para keponakan untuk tidak bermain petasan. Nah, karena posisi saya saat ini saya sudah punya dua jagoan kecil maka tugas saya adalah mendidik dan memberikan pemahaman pada  mereka terkait bahaya petasan serta lebih banyaknya mudharat daripada manfaat petasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gaes, menulis adalah kolaborasi antara hati, jiwa dan pikiran kita.Jika berkenan silahkan tinggalkan saran, kritik, atau sekedar tanggapan kalian.

well, siapapun kalian,
terimakasih untuk meninggalkan jejak langkah disini, :)

Mainan edukatif tidak harus mahal

Seorang ibu tentunya selain bertugas mendidik anak juga bertugas mengatur keuangan keluarga. Bukan sebagai kasir, tapi lebih dari itu har...