Kamis, 11 Oktober 2018

Ketika Jarak Memisahkan Kita



Saat ini posisiku masih ada di luar kota, tepatnya di Grand New Park Hotel Surabaya. Tujuan kami adalah Villa Arsaba Trawas Jawa timur. Baru besok pagi kami akan meluncur kesana untuk agenda meeting HRD PT Behaestex grup.

Berjarak lebih dari 400 KM dari Pekalongan tentunya memunculkan rasa kangen yang luar biasa pada duo sholih tersayang. Bersyukur sekarang semuanya jauh lebih mudah karena canggihnya tekonologi. Fitur Video Call Whatsapp menjadi pilihan kami untuk berkomunikasi.


Perjalanan memakan waktu sekitar empat setengah jam menggunakan kereta Argo Bromo Anggrek. Berangkat dari pekalongan sekitar jam 14.00 dan sampai di Satsiun Pasar Turi jam  18.30. Namun kami baru sampai di hotel satu jam kemudian karena kami mengisi amunisi perut terlebih dahulu.

Sesampai di hotel, hal pertama yang aku lakukan adalah merebah dan Vicall dengan anak-anak, duo sholih. Saat tersambung, tiga wajah orang yang menajdi penyemangat hidup ku muncul di layar: Ayah, Agha dan Affan. Tak lama kemudian mbah ibu tersayang juga muncul dengan senyum mengembang. Kali ini mbah akung absen, mungkin sedang pengajian.

Saat mengobrol, Agha bercerita kalau ayah belum beli remote TV karena sudah tutup. Affan sibuk dengan mainannya. Agha juga bercerita kalau ia mencariku kemana-mana kemudian memintaku pulang.  Sedih sekali aku mendengarnya namun aku tetap harus tampak tegar, tak boleh baper.

"Unda pulang, Agha cari Unda."

"Iya, malam ini Agha tidur sama Ayah ya, Unda lagi dinas, maafin Unda ya."

"Kapan pulangnya?" tanya Agha lagi.

"Emmm, kalau waktunya pulang nanti Bunda pulang kok, Agha jadi anak sholeh ya di rumah."

"Iya, tadi Agha makan sendiri," jawab Agha bangga.

"Wah hebat, makan banyak?"

"Iya banyak, pake tangan."

"Oh makannya pake tangan ya, nggak pake sendok, kayak sunnah nabi ya."

"He'eh." Agha menjawab dengan mengagukkan kepala. Tak lama kemudian HP direbut oleh Affan.

"Halo Affan sayang," kataku menyapa Affan. Ia tersenyum manis sekali. Senyum yang kurindukan.

Mbah ibu kemudian bercerita kalau Agha mau makan sendiri bahkan memintanya ke Mbah ibu. Mungkin karena dari pagi Agha belum makan nasi. Jadi agak sorean dia lapar dan minta nasi.

"Agha makan pakai sosis Nda," celoteh Agha saat Mbah ibu menyampaikan cerita tentang dirinya.

"Mas Agha keren lho, mau makan sendiri, hebat deh anak sholihnya Bunda," pujiku tulus.

"Iya dong Nda," jawab Agha dengan bangga. Celoteh Agha selalu bisa menyejukkan hati. Menjadi penawar rasa letih seharian ini.

Alhamdulillah, meski berjauhan dan jarak membentang, Agha masih berproses untuk makan sendiri. Apalagi Agha termasuk yang sangat pemilih dalam hal makanan. Saat berjauhan seperti ini kadang yang menjadi pikiran adalah Agha mau makan atau tidak. Untungnya Mbah ibu dan ayahnya anak-anak sangat aware masalah ini ketika aku tidak di rumah.

Jadi meski berjauhan, mereka lah yang akan menawari Agha makan. Tentunya tetap dengan mengajarkan Agha makan sendiri. Hanya saja kadang memang jika sudah tidak mau makan sendiri mereka menyerah dan menyuapi Agha. Disini lah peranku untuk mengingatkan Agha, mengapresiasi ketika Agha ternyata makan sendiri di rumah. Karena dengan apresiasi Agha akan lebih bersemangat untuk bisa makan sendiri, lagi dan lagi.

#harike-8
#Tantangan10hari
#gamelevel2
#melatihkemandirian
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gaes, menulis adalah kolaborasi antara hati, jiwa dan pikiran kita.Jika berkenan silahkan tinggalkan saran, kritik, atau sekedar tanggapan kalian.
terimakasih untuk meninggalkan jejak langkah disini, :)

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...