Kenapa Harus Pakai Sabun

Posting Komentar
Sore kemaren Agha tetiba lari ke kamar mandi saat sedang asik bermain puzzle huruf hijaiyah. Sebelum masuk dia lebih dulu meelepas celananya dan berteriak, "Unda, Agha mau e'e."

"Iya," jawabku singkat.

Aku pun menyambanginya ke kamar mandi, memastikan semua berjalan semestinya. Tapi justru Agha marah dan mengomel.

"Unda sana, jangan disini nanti bau."


"Iya, Bunda cuma mau lihat aja sebentar," jawabku santai.

"Cepet sana nanti bau, kasian yo," omelnya sekali lagi.

"Yang kasian siapa?" tanyaku penasaran.

"Unda nya yo, muntah nanti," jawab Agha penuh simpati. Aku pun tertawa dan meninggalkan Agha dengan posisi ternyamannya.

Beberapa menit kemudian Agha dengan nyaring memanggilku yang sedang asik mengulik beberapa grup whatsapp yang ramai. Dengan segera alu meninggalkan gawai di meja dan kembali ke kamar mandi. 

"Agha sudah?" tanyaku memastkkan.

"Iya, ini sudah Agha siram, tapi belum wawik."

"Ya udah, jongkok lagi agih," perintahku ke Agha.

Dengan gesit kubersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel. Ritual bebersih pasca pup selalu menggunakan sabun. Melihat aku menggunakan sabun Agha bertanya.

"Unda, kenapa kalau ee kok pakai sabun, kalau pipis kok enggak?"

"Karena kalau ee itu ada ampasnya, jadi harus benar-benar bersih, biar kumannya nggak ada yang nempel," jawabku sekenanya.

Sebenarnya aku agak mengernyitkan dahi mendapati Agha mempertanyakan hal ini. Bukankah ini sudah menjadi kebiasaan kami, tapi kenapa baru ditanyakan. Apakah mungkin karena pikiran kritisnya bertumbuh semakin matang.

"Nda, Agha udsh bisa wawik sendiri yo, Agha udah gede yo," ucap Agha protes.

Usia Agha sekarang belum genap tiga tahun. Masih ada dua bulan lagi untuk menggenapkannya. Tapi seringkali Agha merasa bahwa dirinya sudah besar. Pernah suatu ketika dia minta meminjam gawai dengan alasan kalau dirinya sudah besar. Aku tersenyum mendnegarnya. Untungnya dengan penjelasan singkat Agha mau menerimanya.

"Agha udah gede tapi masih anak-anak, jadi kalau ee wawiknya sama Bunda ya," jawabku kemudian.

"Kalau pipis boleh wawik sendiri?" tanyanya masih minta persetujuan.

"Iya boleh, tap haris dengan air mengalir yang banyak ya, biar suci dan bersih," terangku.

"Agha juga sudah bisa mandi sendiri yo Nda,"

"Masa sih?" aku mengomentari dengan usil.

"Iya Nda," jawab Agha kesal.

"Wah sudah gede nih, berarti sudha nggak boleh pake pampers lagi ya kalau bobok."

"Tapi ntar ngompol yo Nda," Agha menolak dengan alasan klasiknya.

"Katanya sudah gede, kalau sudah gede ya nggak pake pampers," tegasku ke Agha.

Agha sepertinya memikirkan kalimat terakhirku. Dahinya berkerut-kerut. Seringkali kalau tidur malam memamg aku memakaikan Agha popok sekali pakai. Sesekali saja dia tidak menggunakannya. Itu pun jika sebelum tidur Agha memang piois terlebih dahulu. Padahal tiap dipakaikan, bahasa tubuh Agha menolaknya. Sebenarnya ini PR untuk kami mengajarkannya mandiri dan pipis tengah malam. Tapi karena kalau terbangun makam Agha lebih sering drama daripada kooperatif, ayahnya memilih sementara waktu cari aman.


Naila Zulfa
Seorang istri dan ibu pembelajar serta Praktisi HR yang suka dunia literasi. Selamat datang di Dunia Naila, semoga apa yang dibaca bermanfaat.

Related Posts

Posting Komentar