Kamis, 07 November 2019

Keluarga Konstantinopel



Setumpuk pekerjaan pagi ini masih menanti untuk segera kuselesaikan. Namun berisik chat di grup Konstantinopel mengusikku. Karena penasaran, kuintip segera, dan ternyata ratusan chat yang mengharu biru. Belasan stiker lucu, konyol dan syahdu saling berpadu. Ah, tak terasa sudah dua bulan kita dikumpulkan di Konstantinopel. Meski hanya dua bulan, rasanya kita benar-benar seperti sudah saling mengenal lama.


Konstantinopel, bagaikan sebuah rumah yang kita bangun bersama-sama selama dua purnama. Perbedaan usia, latar budaya, pendidikan, dan karakter, tak menjadikan kita menjaga jarak, justru kita saling mendekat dan kian hari kian erat merekat. Mungkin inilah yang dinamakan satu frekuensi, minat kita di letarasi.

Sedih dan terharu, ketika akhirnya mau tak mau kita harus membongkar rumah yang kita bangun  dengan penuh cinta dan kehangatan. Entah kapan waktu itu akan benar-benar tiba. Ada kenangan yang akan tetap tersimpan dalam ingatan bahwa kita pernah berjuang bersama, menjaga konsistensi menulis selama dua bulan penuh, tanpa jeda. Meski aku hanya mengawal saja perjalanannya.

Bersyukur bisa mengenal kalian, orang-orang pilihan dengan semangat juang luar biasa.

Mbak Jihan dan Mbak Riana, dua anggota keluarga yang sepertinya tidak pernah berhutang tulisan. Konsistensi yang menurutku perlu diapresiasi dengan empat jempol tangan dan kaki.

Gus Udin, satu-satunya lelaki yang tak pernah grogi meski di sekelilingnya penuh dengan emak-emak dan mbak-mbak yang berisiknya setengah mati.

Ka Dewi Dean, kebalikan dari Mbak Jihan dan Mbak Riana, hobi sekali rapelan tulisan di penghujung pekan. Membuat para pijeh yang bertugas rekap dag dig dug, karena jujur satu saja ada yang gugur dan harus hijrah keluar Konstantinopel itu rasanya menyesakkan dada.

Mbak Sari, Mbak Fitri, Mbak Hayyu dan Mbak Retno yang awalnya masih malu-malu untuk masuk ke percakapan lama-lama bisa berbaur dengan renyah dan santun bahkan sesekali malu-maluin :D.

Mbak Lasmi, kebetulan nama anaknya sama, Naila. kebetulan juga beliaulah satu-satunya yang menuliskan biografi singkat tentang aku, ahahahah.

Mbak Prajna Hei, satu nama yang sangat unik bak artis India. Mengingat Mbak Prajna, juga secara otomatis mengingatkanku pada nama penulis ternama, Dee Lestari, karena namanya sama dengan nama putrinya. Semoga karya-karyanya bisa semoncer Karya Dee Lestari, amin.

Mbak Karis, yang selalu kalem dari awal masuk sampai di penghujung waktu.

Tak lupa Duo Lilis kesayangan; Lilis Odiah dan Lilis Indrawati yang sudah lebih dulu menyesap manis asamnya kehidupan, penuh dengan petuah dan nasehat untuk kita yang baru kemaren mengenal dunia.

Sebenarnya, ada nama-nama lain yang masih lekat di ingatan, namun alur perjalanan mengharuskan mereka berbelok dan berbeda tujuan sehingga tidak bisa berkumpul bersama lagi di rumah kesayangan kita, Konstantinopel. Dimana pun berada semoga tetap menebar manfaat melalui tulisan.

Untuk kalian ber 13, selamat sudah bisa menaklukkan tantangan dan tertuama menaklukkan diri sendiri. Melawan malas dan menembus batas. Ada yang awalnya mengeluh tidak biasa menulis fiksi, akhirnya bisa menerjang batasannya sendiri dan membuktikannya. Kalian keren luar biasa.

Sedih, senang, terharu, apapun itu berpadu menjadi satu. Namun, meski karantina ini sudah berakhir, justru inilah gerbang awal kalian menjadi sebenar-benarnya keluarga besar ODOP. Selamat datang kami ucapkan, semoga bisa bertahan, bersinergi dan saling berbagi. Berbagi apa saja; canda tawa, motivasi, ilmu, informasi. Mari kita berangkulan, melanjutkan perjalanan Bang Syaiha untuk bersama-sama menebar manfaat melalui kata dan aksara. Bertumbuh bersama, menjadi bagian dari literasi negeri ini.

Spesial untuk Mbak Nining dan Mbak Dian, berjuta terimakasih atas kerjasamanya yang luar biasa. Meski kita hanya bertiga di kamar khusus dan harus kehilangan mas ilham atas kesibukannya, alhamdulillah semuanya kelar tanpa aral yang bermakna. Tak lupa untuk Mbak Sakifah dan Cak Lutfi selaku Pije utama, tak ada kata yang dapat kuungkapkan pada kalian, hanya doa yang dapat kupanjatkan, semoga lelahnya dibalas oleh Allah dengan sebaik-baik balasan.

Terakhir, maaf yang sebesar-besarnya jika selama membersamai, kami para pije kurang optimal. Jika jawaban-jawaban kami kurang memuaskan. Jika kata-kata kami ada yang menyinggung perasaan. Jika chat kami ada yang kurang berkenan. Pije hanyalah manusia biasa yang berusaha membagi waktu untuk menemani kalian ke gerbang rumah besar kita bersama, ODOP tercinta. Sekali lagi, maafkan kami...

8 komentar:

  1. Aku juga terimakasih banyak ya Mba Nay. Saling bersinergi untuk menjadi team pj yang solid, haiya bahasanya hehehehe

    BalasHapus
  2. Hihihi..sering jadi silent reader doang aku mbak..karena yang kecil lagi seneng2nya jalan dan kadang berebut hp dengan anak πŸ˜‚

    BalasHapus
  3. Swmakin meleleh, walau sudah ku tahan-tahan panasnya mata ini, tetap tak bisa membendungnya. Mengalir lancar melewati batas pipi dan wajahku.

    BalasHapus
  4. πŸ€—πŸ€—πŸ€— Terimakasih juga ka Nai sudah sabar sama cuitan dan keyboard warrior ku. Juga mbak Dian dan Mba nining. Terimakasih banyaak ❤️

    BalasHapus
  5. Mba Naaaiii...dan pije lainnya, semuanya luar biasa, aq juga mgkin ada salah, mohon dimaafkan ya mba, dan Allahumma amiinn buat doanya, semoga bisa selalubmembuat tulisan yang moncer...andai bisa kukirim bunga, akan kukirim buket 1000 mawar πŸ˜€
    Sementara gambar mawar aja dulu yaa 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    BalasHapus
  6. Terimakasih kaka2 pj semua semoga Allah balas segala kebaikannya, konstantinopel kesayangan

    BalasHapus

Gaes, menulis adalah kolaborasi antara hati, jiwa dan pikiran kita.Jika berkenan silahkan tinggalkan saran, kritik, atau sekedar tanggapan kalian.
terimakasih untuk meninggalkan jejak langkah disini, :)

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...