Senin, 27 Januari 2020

Bermain dan Belajar di Ladang


Akhir pekan merupakan waktu yang selalu dinanti oleh duo sholih Agha Affan. Tentu saja karena kami bisa berkumpul full tim dan main bersama.

Agenda ayah kali ini adalah membantu Mbah Kakung menanam cabai (cabai beneran, bukan cabe-cabean). Namun, karena ada tragedi yang mengharuskan kami mencuci serta menjemur kasur, maka ayah hanya mengajak mas Agha. Bunda dan Affan di rumah mencuci kasur yang sudah dibawa keluar oleh ayah.

Jika ada yang ingin tahu tragedi apa yang mengharuskan kami mencuci kasur, sini kubisikin 😆



Sebelum berangkat Agha berpesan agar nanti bunda dan Affan tetap menyusul ke ladang. Ia bahkan meminta untuk dikirimi es teh, seperti layaknya pekerja sawah.
Sesuai permintaan Agha, dan memang Affan berulang kali merengek minta ke ladang a.k.a kebon, sekitar jam sepuluh, Bunda dan Affan berangkat dengan membawa beragam makanan plus es teh pesanan mas Agha.

Sampai di kebon, ternyata ayah tidak di lokasi, sedang membeli bibit tambahan. Hanya ada Agha, Mbah Kakung dan Pakdhenya duo sholih. Agha senang sekali melihat bundanya datang. Ia segera menikmati es teh segar dan memilah makanan yang menurutnya menarik.

Affan yang memang terlahir dengan kekuatan fisik luar biasa, berlari mengelingi kebon, naik turun tebing yang agak curam, menginjak rumput dan tak takut terkena duri bahkan memainkan kelabang yang ditemuinya. Sepertinya Affan tipe yang langsung beraksi dengan tindakan tanpa berpikir lebih panjang jika penasaran atau kepo pada sesuatu.

Tak lama, ayah kembali tanpa membawa apa-apa. Bibit yang mau dibeli masih terlalu kecil, jadi ditunda besok mencari ke penjual lain dengan bibit yang sudah lebih tinggi, mengurangi resiko mati dan gagal. Ayah kemudian berinisiatif memetik rambutan yang mulai memerah.


Lain halnya dengan Affan, Agha si tipe pemikir, mengamati sekitar. Menanyakan beberapa hal yang kadang menurut kami receh, tapi bagi anak kecil merupakan sesuatu yang luar biasa. Dan ... Tingkat kekepoan yang tinggi bagi anak adalah bagian dari proses belajar.

Melihat kening Agha berkerut dan berpikir, bunda memberikan Agha tantangan. "Sebutkan pohon apa saja di yang Agha lihat!"

Agha menyebutkannya dengan lebih dulu mengamati ulang lingkungan sekitar. Ia lumayan bisa menyebutkan rambutan, durian, pisang, rumput dan cabai.

Yeah, karena saat ini mereka sedang masa perkembangan dan pertumbuhan, dimana pun selalu ada proses belajar, bahkan saat bermain sekalipun. Bukankah dunia anak memang dunia bermain?

Matahari semakin tinggi. Usai menghabiskan rambutan yang dipetik ayah, kami pulang ke rumah. Oh ya, sebelumnya kami mampir ke sungai dulu untuk membersihkan tubuh duo sholih dari tanah merah yang nyangkut di baju dan sandal.

Itu akhir pekan kami. Semoga akhir pekan kalian juga menyenangkan, ya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gaes, menulis adalah kolaborasi antara hati, jiwa dan pikiran kita.Jika berkenan silahkan tinggalkan saran, kritik, atau sekedar tanggapan kalian.
terimakasih untuk meninggalkan jejak langkah disini, :)

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...