Sosok itu terisak dalam goresan luka. Sedu sedannya menyayat. Aku tak pernah sanggup melihatnya menangis. Dengan lembut kuelus rambut hitamnya yang terurai dengan indah. Tak ada sepatah kata pun yang terucap, senyap. Isakannya menjadi denting luka yang memantul-mantul di hatiku.
Perlahan dia menghentikan isaknya dan dengan lembut memelukku. Pelukannya masih hangat, seperti dulu.
“Semuanya sudah berakhir” lirihnya berbisik, kembali terisak.
Aku menatap matanya dengan tenang. Dalam diam kucoba menegarkannnya.
“Bahkan dalam tangis pun kamu tetap nampak tegar” gumamku dalam hati.
“Aku gagal.” ia tergeragap merangkai kata-kata itu.



