Senin, 30 April 2018

Menyusui Saat Hamil, Why Not?

Tiap perempuan, tiap ibu pastinya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Salah satu yang terbaik untuk anak adalah ASI. ASI adalah makanan dan minuman utama bagi bayi. Nutrisinya sangat komplit, tidak ada yang bisa menandingi kandungan ASI, bahkan susu formula termahal sekalipun. Selain sebagai nutrisi, ASI juga mengandung antibodi yang bisa memberikan perlindungan untuk bayi. Jadi sudah menjadi hak bayi untuk mendapatkan ASI, bahkan Islam menganjurkan kepada para ibu untuk terus memberikan ASI kepada buah hati hingga usia dua tahun. Firman Allah dalam surat Al-baqoroh ayat 233: "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan". Setelah dua tahun, tantangan ibu selanjutnya adalah menyapih buah hati untuk lepas dari ASI.

Pengalaman saya pribadi saat anak pertama, Agha, saya sapih di usia 20 bulan. Awalnya saya mantap untuk menuntaskan hak ASI Agha hingga usia 2 tahun atau 24 bulan, namun ada faktor lain yang mengaharuskan saya untuk menghentikan pemberian ASI, menyapih Agha. Jadi saat usia Agha memasuki bulan ke 15, saya baru menyadari bahwa saya telat menstruasi dan dengan alat test murah meriah dua garis merah bertengger menandakan saya positif hamil. Usia kandungan waktu itu sekitar satu bulan. Saya sempat ragu dan galau untuk meneruskan program ASI Agha, apalagi lingkungan menyuruh saya untuk segera menyapih. Bahkan mereka menakut-nakuti dengan berbagai macam cerita. Mitos yang beredar di masyarakat bermacam-macam. Ada yang bilang bahwa ASI saat hamil rasanya jadi tidak enak dan bahaya untuk anak atau asinya basi. Wah wah wah, galau saya semakin akut. Waktu itu saya benar-benar belum tahu ilmunya, karena kehamilan kali ini diluar rencana, bonus dari Allah.

Selasa, 24 April 2018

Tentara Allah yang Menurunkan Hujan

Siang ini langit sepertinya cemberut, mendung bergelayut. Fatih sangat senang karenanya. Ia sangat mengharapkan hujan segera turun, sudah sejak dua minggu lalu ia menantinya. Musim tak lagi seperti dulu, kadang pagi panas meranggas, siang hari tiba-tiba hujan deras, tak menentu.

“Ma, langit mendung tapi hujan belum juga turun,” keluh Fatih dengan muka cemberutnya.

“Itu artinya Allah masih menguji kesabaran Fatih,” jawab mama dengan senyuman. Fatih manyun mendengarnya.

Fatih menanti hujan karena ia ingin segera bermain air. Selama ini mama tidak pernah melarangnya, hanya memberi batasan waktu, tidak boleh lebih dari satu jam. Tiap hujan datang Fatih akan segera minta izin ke mama untuk main. Fatih masih menunggu, namun hujan tak kunjung datang, hanya gemuruh dan petir yang mulai berkilat-kilat. Jika hujan dibarengi geledek dan petir, mama akan dengan tegas melarang Fatih main di luar, berbahaya. Kali ini wajah Fatih semakin berlipat-lipat karena hujan belum juga datang, justru geledek dan petir sudah bertebaran di langit. Fatih pun memilih masuk ke dalam rumah. "Mama pasti akan melarangnya main air hujan," Pikir Fatih.

Selasa, 17 April 2018

Fatih dan Jamur Kayu

Pagi yang cerah. Matahari bersinar indah. Tanah di halaman rumah masih agak basah karena hujan semalam. Musim memang sudah tidak bisa lagi diperkirakan. Panas menyengat di siang hari, bisa tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat di sore hari. Menurut penanggalan, bulan ini memasuki musim kemarau, tapi masih hampir tiap malam hujan mengguyur kota. Fatih sangat senang tiap hujan datang bersamaan dengan petir. Ia akan duduk di ruang tamu menghadap jendela, menikmati kilatan cahaya petir.
“Kenapa Fatih suka sekali jika ada petir Nak?” tanya mama suatu ketika.

“Karena Fatih merasa Allah sedang memfoto kita dan alam Ma,” jawab Fatih singkat dan padat. Jawaban Fatih justru membuat mama terkejut karena di luar dugaan mama. Usia Fatih baru sembilan tahun, tapi jawaban-jawabannya seringkali mebuat mama takjub dan geli. Bahkan pertanyaan yang dilontarkan tak jarang membuat dahi mama berkerut-kerut.

Selasa, 10 April 2018

FATIH BERMAIN CONGKLAK


Hari yang begitu indah, matahari bersinar cerah, udara pun segar tak membuat gerah. Fatih sedang duduk di kursi depan, mengamati daun bambu di kejauhan yang bergoyang-goyang terbawa angin. “Ma, daunnya bergerak-gerak tuh,” teriak Fatih masih duduk manis. Mama yang mendengarnya menyahut dari dalam rumah, “iya itu karena tertiup angin.” Mama pun melanjutkan aktifitasnya, melipat baju sembari mendengarkan pengajian di salah satu stasiun televisi kenamaan. “Ma, sini, ayo main kerikil.” kata Fatih meminta perhatian mamanya. “Sebentar ya sayang, tinggal lima baju lagi,” kata mama masih sibuk dengan pakaian di depannya. Fatih yang mendengarnya menggerutu dan menanggapi, “cepetan ya ma.”
Setelah semua baju terlipat rapi, mama mendatangi Fatih yang kini sudah pindah ke halaman, mengumpulkan kerikil kecil dan dimasukkan ke truk mainan. “Kesayangan mama main apa nih?” tanya mama mulai ikut main dengan Fatih. “Fatih mau buat rumah ma, kayak pak kaji, beli batu dulu ya,” jawab Fatih menirukan apa yang dilihatnya kemaren. Tetangga rumah mereka, pak Kaji, kemaren sore memebeli batu kali untuk pondasi pembuatan rumah. Batu-batu itu diangkut dan dibawa oleh truk.

Sabtu, 07 April 2018

FATIH DAN BURUNG YANG MATI



Matahari bersinar terik, udara panas dan membuat gerah. “Panas sekali hari ini ya Ma,” kata Fatih sembari memperhatikan barisan motor di parkiran. Ia sedang menunggu ayahnya yang tak kunjung datang untuk menjemput. Ayahnya berjanji akan menjemput mereka sepulang sholat Jum’at di masjid. Tapi sampai jam satu siang lebih mereka masih setia menanti, duduk di gazeboo halaman Perpustakaan Kabupaten.
“Fatih lapar Ma, ayah kemana sih kok nggak datang-datang,” gerutu Fatih yang mulai tidak sabar. “Fatih lapar ya, kita beli somay saja dulu ya, sepertinya ada somay yang mangkal di seberang jalan. Ayo  lets go,” seru mama sembari menggandeng tangan Fatih, menuju bapak penjual somay. Fatih dan mama memesan dua porsi somay, yang pedas untuk mama, yang manis untuk Fatih. Setelahnya mereka kembali ke halaman depan Perpustakaan, memakan somay yang dibungkus plastik di gazebo. Usai makan Fatih membuang sampah plastiknya ke tong sampah. “Alhamdulillah Ma, Fatih lumayan kenyang,” kata Fatih sambil memegang perutnya.”Syukur lah kalau begitu, Allah masih sayang sama Fatih,” kata mama, sengaja menekankan peran Allah yang Maha Penyayang.

Senin, 02 April 2018

RAPORT MERAH GUGI

Hujan semalam mengguyur cukup deras, masih ada sisa-sisa air di jalan menuju sekolah. Mondis dan Tupis berangkat bersama, melompat dari dahan ke dahan, pohon ke pohon. Menghindari kubangan air sisa hujan. Mereka juga saling unjuk kebolehan melompat dan saling bermanuver. Sesekali Mondis hanya berpegangan satu tangan atau melilitkan ekornya ke dahan berikutnya. Tupis juga tidak mau kalah, melompat dengan jarak yang sangat jauh.
Mereka sampai di sekolah sebelum bel berbunyi. Baju mereka basah oleh keringat. Dengan semangat yaang menggelora, Mondis dan Tupis memasuki kelas sederhana yang penuh dengan hiasan dari prakarya para siswa. Meskipun berkeringat, mereka antusias mengikuti pelajaran. Ini adalah pelajaran favorit Tupis, berhitung. Tupis sangat jago dalam berhitung, sedangkan Mondis lebih ahli di pelajaran bahasa asing. Apapun bahasanya, Mondis selalu menjadi yang terdepan dalam urusan ini. Mungkin Mondis memang diciptakan dengan kekuatan otak bahasa. Mondis dan Tupis saling melengkapi dalam belajar, mereka seringkali belajar bersama.

Minggu, 01 April 2018

MONDIS BISA MENCUCI PIRING

Malam semakin larut. Bintang di angkasa menerangi langit, gemerlap indah. Mondis dan Tupis terlelap dalam tidur, ia kelelahan setelah seharian bermain layang-layang bersama Tupis sahabatnya. Tupis adalah tupai lincah yang sangat penyayang, sedangkan Mondis adalah monyet yang periang. Seandainya mereka dari jenis yang sama, penduduk Rimba akan menganggap jika mereka bersaudara, karena terlalu seing bersama. Seperti malam ini, Tupis menginap di rumah Mondis.

Tupis sengaja menemani Mondis yang sendirian di rumah pohonnya. Orangtua Mondis sedang melakukan perjalanan jauh, membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Orangtua Mondis dan beberapa monyet lain sedang mencari lokasi hutan pisang yang dikabarkan berbuah lebat. Mondis yang sendirian pun mengajak Tupis untuk tinggal di rumahnya, menemaninya.

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...