Sabtu, 31 Maret 2018

FESTIVAL LAYANG-LAYANG

“Pokoknya aku nggak mau sekolah lagi.” Gerutu Fandi pada ibunya. Sedari pulang sekolah ia terus saja menggerutu seperti itu.
“Memangnya kenapa Sayang? Sini cerita ke ibu.” Tanya ibu pada Fandi sembari memeluk Fandi dengan lembut. Fandi hanya diam saja, matanya tertuju pada buku favoritnya, Superhero Zaman Now.
“Ada yang mengejek Fandi lagi?” Pancing ibu pada Fandi yang masih belum mau buka suara.
“Ibu kan sudah bilang, jangan pedulikan mereka. Fandi memang tidak pernah dijemput ayah ke sekolah. Bukan karena ayah tidak sayang sama Fandi.”
“Terus karena apa Bu?” Fandi memotong kalimat ibu. “Kalau ayah sayang sama Fandi, seharusnya ayah ada disini bersama kita, bisa menjemput dan mengantar Fandi ke sekolah, seperti ayah teman-teman Fandi.”

Kamis, 29 Maret 2018

MONDIS SAKIT PERUT


"Assalamualaikum. Mondis pulang." Teriak Mondis si monyet periang sembari memasuki rumah. Siang ini Mondis agak terlambat pulang sekolah, tidak seperti biasanya. "Walaikumsalam, kok baru pulang nak?" Tanya Ibu pada Mondis. " Iya bu, tadi Mondis emm emmm emmmm menemani Tupis piket kelas dulu, sengaja biar bisa pulang bareng." Jawab Mondis kikuk dan gagap. "Oh, ya sudahlah, lebih baik sekarang ganti baju, sholat dhuhur dan makan. Ibu sudah menyiapkan salad buah kesukaan kamu."

Di dalam kamar, Mondis melompat kesana kemari, nampak sekali dia bahagia. Mondis bahagia karena dia berhasil mengelabuhi ibunya. Sebenarnya baru pertama kalinya Mondis berbohong pada ibu, saat tadi bisa lolos dari ibunya, ia merasa senang dan berhasil. Ini menjadi awal yang buruk untuk Mondis, karena ia menjadi ketagihan.

Rabu, 28 Maret 2018

NHW #9 : BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga perjalananku di minggu ke 9 Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 5. Ada senang, ada sedih. Senang karena bisa melewati tantangan ini di tengah padatnya membersamai duo sholih dan bekerja sebagai karyawan swasta. Sedih, karena program ini akan berakhir, program yang memberikan beragam manfaat untuk aku pribadi. sedih karena takut kehilangan teman-teman baru yang selama ini menginspirasi serta fasilitator kesayangan yang cantik dan baik.

Tema minggu ke 9 ini adalah " Bunda sebagai Agen Perubahan". Sekilas baca judulnya jadi ingat awal-awal masuk kuliah dulu saat orientasi mahasiswa baru, selalu diulang-ulang oleh senior bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Bahwasannya mahasiswa dianggap sebagai kaum terpelajar, yang bisa memberikan alternatif solusi pada berbagai macam permasalahan, terutama masalah sosial. Mahasiswa sebagai kaum penggerak. Namun, setelah menjadi ibu dan berusaha terus belajar, semakin sadar bahwa posisi sebagai agen peubah justru sangat melekat pada diri seorang ibu. Karena dari seorang ibulah peradaban terbentuk. dari dalam rumah lah mental dan karakter baik anak sebagai generasi penerus bangsa ini tumbuh dan berkembang. Mari sesama ibu, kita berdoa agar bisa menjadi ibu yang amanah, menjadi uswah dan menjadi agen peubah minimal untuk keluarga kecil kita.

Minggu, 18 Maret 2018

Bermain Hujan

Sekali dua kali atau bahkan tiga sampai empat kali lebih membiarkan anak bermain di bawah guyuran hujan ternyata menyenangkan. Melihat mereka riang dan senang tentunya juga membuat kita bahagia. Daripada marah-marah dan melarang mereka sambil teriak-teriak nggak jelas yang justru bisa membuat anak-anak menangis sedih dan marah, lebih baik kita ikut menikmati keceriaan mereka. Yang penting anak tidak dalam kondisi sakit saat bermain hujan, memastikan anak benar-benar fit dan harus tetap dalam pantauan. Jika sudah terlalu lama ya harus dihentikan, apalagi sampai menggigil, atau sejak awal tentukan durasi waktu bermain.

Kali ini Agha dapat jatah 15-20 menit untuk bermain. Lebih dari itu ya dikukut, mandikan dan hangatkan dengan minyak telon kesayangan.

Sabtu, 17 Maret 2018

NHW #8 : MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

"Be Professional, Rejeki will Follow" adalah tagline Ibu Profesional yang maknanya sangat dalam. Bukan hanya profesional di pekerjaan ranah publik/profesi, tapi bagaimana kita menjadi profesional dalam tiap peran yang kita  emban. Bagi seorang ibu "be professional" disini justru yang utama adalah professional menjalankan peran sebagai istri dari seorang suami dan ibu dari anak-anaknya, baru setelahnya peran kita sebagai individu yang memberikan manfaat untuk sesama. Dengan kita professional dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran, maka akan semakin mendekatkan kita pada Sang Pemilik Hidup ini, Allah SWT. Adapun kalimat "Rejeki will follow" lebih menekankan pada kenyataan bahwa rejeki tiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kebermanfaatan kita untuk semesta alam, serta keberkahan dari kesungguhan kita dengan menjalankan apa yang kita suka dan apa yang kita bisa. Tagline di atas juga sangat cocok bila diganbungkan dengan kalimat inspiratif  "Rejeki itu pasti, kemuliaan harus dicari".

Dari tagline itulah maka menentukan misi hidup menjadi sebuah kewajiban untuk selanjutnya kita bersungguh-sungguh menjalankan misi itu sehingga bisa memberikan lebih banyak manfaat untuk orang lain, menjadi seorang istri dan sekaligus ibu yang produktif. Produktif disini tidak selalu maknanya apa-apa yang menghasilkan uang, namun lebih kepada sejauh mana kita bisa menebar manfaat untuk sesama. Dan sungguh value ini seiring dan sejalan dengan hadits nabi Muhammab SAW, "Khoirunnas Anfa'uhum Linnas" yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat pada orang lain.

Jumat, 16 Maret 2018

PERPUSTAKAAN SEBAGAI ALTERNATIF LOKASI BERMAIN DAN "WE TIME"

Beberapa minggu yang lalu, aku dan Agha berkunjung ke perpustakaan Kabupaten Pekalongan. Lokasinya tepat di depan alun-alun Kajen, disamping masjid. Ini adalah kunjungan pertama Agha. Dan untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di wilayah kids corner, meskipun sudah sejak lama aku keluar masuk perpustakaan. Sebelum menjadi ibu, tiap berkunjung ke perpustakaan, aku langsung menuju rak novel dan bertahan di satu tempat itu, tidak pernah sedikitpun melirik kids corner

Tujuan ke Perpustakaan kali ini, selain untuk lebih mengenalkan Agha pada dunia buku dan literasi, juga untuk "quality time" dengan Agha, hanya berdua, benar-benar "we time". Jadi ceritanya, sudah hampir dua minggu, tiap malam Agha rewel dengan alasan yang tidak jelas dan dengan durasi waktu yang cukup panjang. Selalu minta gendong, terutama saat-saat adeknya justru butuh bundanya. Akhirnya aku mengambil kesimpulan, Agha cemburu dan merasa tersisih dengan kehadiran dedek Affan. Aku perlu muhasabah dan melihat ke belakang, mencari apa yang salah pada kami, orangtuanya.

Senin, 12 Maret 2018

NHW #7: TAHAPAN MENUJU BUNDA PRODUKTIF

Tak terasa program matrikulasi ini sudah memasuki mingggu ke 7, yang artinya hanya dua materi lagi yang tersisa. Betapa waktu amat cepat berlalu. Awalnya aku kira NHW 7 ini cukup simpel, namun setelah dikerjakan ternyata butuh pemikiran yang cukup dalam, bertanya pada diri sendiri. Niat awal tidak berencana membuat narasinya dan menuliskannya disini, alasan klasik, tidak cukup waktu, padahal waktu tidak pernah berubah, 24 jam sehari, hihihi. Akhirnya harus memaksakan diri sendiri.

Tugasnya adalah menemukan kekuatan diri kita sendiri (Strength Typology) melalui tools atau alat yang diciptakan oleh Abah Rama Royani, di web temubakatdotkom. tes kali ini gratis tis, jadi siapapun bisa mencobanya. namun jika ingin tahu lebih detail bisa melanjutkan untuk yang berbayarnya (bukan promosi).


Nah, setelah mengisi dan mengikuti petunjuk di web, hasilnya akan membaca seperti apa diri kita. Namun, kita tidak boleh percaya 100 %, harus dikonfirmasi lagi dengan diri kita sendiri, amati lagi konfirmasi lagi. Untuk membaca lebih detail, ada format pdf yang bisa didownload beserta petunjuk membacanya.

Nah, berikut hasil tes strenght typology yang sudah aku baca berkali-kali, agak terpana namun beberapa memang mendekati.

Senin, 05 Maret 2018

NHW #6 : BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL



Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik. Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita.

Kalimat di atas adalah salah satu kalimat pembuka di kelas matrikulasi minggu ke enam. Betapa selama ini kita telah salah kaprah mendefinisikan ibu bekerja. Karena ibu rumah tangga pun sebenarnya ibu bekerja, namun di ranah domestik.

Tugas kali ini adalah "Being Professional". Menjadi profesional bukan hanya di ranah publik, namun justru di ranah domestik. Karena menjadi professional di ranah publik itu sudah terlalu mainstream, namun di ranah domestik? Harus direncanakan dengan matang, dan DINIKMATI. (Ditulis besar-besar karena jarang sekali menemui ibu-ibu yang bisa benar-benar menikmati pekerjaanya di ranah domestik).

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...