Minggu, 30 September 2018

Bersepeda



Jika biasanya saat hari aktif Agha dan Affan jalan-jalan pagi bersama ayahnya. Kali ini Affan jalan-jalan dengan bundanya, mumpung weekend.  Bedanya, kalau ayah jalan-jalan persis setelah turun dari mushola usai shalat subuh. Sedangkan bersama bundanya baru bisa jalan-jalan setelah matahari bersinar cerah.

Sebenarnya selain bertujuan untuk membersamain anak, memang ada tujuan lain yaitu berjalan kaki lebih lama daripada biasanya. Tentu saja berjalan kaki ini tujuan untuk diriku sendiri. Dalam seminggu aktifitas berjalan kaki sangatlah kurang. Kegiatan terbanyak adalah duduk di depan komputer saat jam kerja atau duduk melantai main bersama anak. Nah weekend seperti ini adalah moment memebersamai anak sekalian moment sehat.

Menemukan Huruf Hijaiyah



Hari Sabtu dan Ahad adalah hari yang penuh semangat. Hari dimana aku bisa full membersamai duo sholih. Seperti biasa tiap weekend, aku selalu berusaha menyiapkan mainan untuk anak-anak. Kalau istilah sekarangber DIY, do it yorself, membuat mainan sendiri.

Mainan yang aku siapkan kali ini, karena mendadak hanyalah alakadarnya. Alhamdulillah Affan dan Agha senang dan riang. Sesekali berebut itu hal yang wajar, kitalah yang perlu menyikapinya dengan baik dan bijak.

Kenapa Harus Pakai Sabun

Sore kemaren Agha tetiba lari ke kamar mandi saat sedang asik bermain puzzle huruf hijaiyah. Sebelum masuk dia lebih dulu meelepas celananya dan berteriak, "Unda, Agha mau e'e."

"Iya," jawabku singkat.

Aku pun menyambanginya ke kamar mandi, memastikan semua berjalan semestinya. Tapi justru Agha marah dan mengomel.

"Unda sana, jangan disini nanti bau."

Sabtu, 29 September 2018

Komunikasi Produktif

Berbicara soal komunikasi selalu menarik. Apalagi jika itu komunikasi dalam sebuah keluarga, telebih pada pasangan. Karena kadang perselisihan kecil dalam rumah tanggga disebabkan komunikasi yang tidak tepat. Meskipun itu perselisihan kecil jika menggunung pun lama-lama bisa menjadi bom waktu, meledak. Apalagi bagi para istri yang tingkat kebaperannya di atas angka rasionya, hal ini bisa menjadi masalah yang wajib dicarikan solusinya. Bagaimana komunikasi yang baik, komunikais produktif.

Alhamdulillah, di perkuliahan Bunda Sayang IIP, materi pertama yang kami pelajari adalah komunikasi produktif. Materi ini  kemudian kami aplikasikan dalam bentuk tantangan sepuluh hari. Sebenarnya sepuluh hari adalah batas minimal yang harus dilaporkan. Setelah sepuluh hari terlewat mestinya kita tetap menerapkannya, jadi ilmu yang diterima jauh lebih bermanfaat bukan?

Rona Hati 2

Jam dinding di dapur staf kantor ini seolah mengejekkku. Aku hampir mati bosan tapi jam kerja masih satu jam lagi. Entah karena tugaslu yang terlalu ringan atau karena aku yang gesit, semua pekerjaan sudah kusesaikan dengan rapi.

Aku masuk jam tujuh pagi dan pulang saat jam menunjukkan pukul tiga. Tujuh jam per hari dan enam hari per minggu. Aku baru tahu ternyata jam kerja normal masyarakat Indonesia hanya 40 jam per minggu. Itu sudah diatur di perundangan kata ibu HRD yang memberikan orientasi karyawan baru.

Jumat, 28 September 2018

Rona Hati

Gubrak.
Suara orang menggebrak meja. Aku mengkeret di pojok ruangan. Padahal aku tidak terlibat dalam percecokan itu, maksudku dalam perdebatan itu. Aku ada di ruangan yang berbeda, berbatas dinding, tapi suara menggelegar barusan ternyata menyiutkan nyaliku.

Ini bukanlah kali pertama aku mendengarnya. Mungkin sudah dua kali dalam minggu ini. Aku menegarkan hati. Bersiap apapun yang akan terjadi. Bagaimanapun keadaannya di dalam sana, aku tetap harus masuk. Menawarkan minuman dan menyiapkannya.

Senin, 24 September 2018

Perhatian Kecil

"Unda, minyaknya Unda ketinggalan," seru Agha saat aku sudah di atas motor.
Aku sudah pamit ke duo sholih, tinggal menyalakan motor dan wuz. Tapi celoteh Agha membuatku urung.

"Minyak apa Sayang?" tanyaku bingung

"Minyaknya Unda, ini," kata Agha sembari berlari kecil ke arahku dan memberikan minyak yang dia maksud.

"Terimakasih ya Sayang," kataku tulus dan terenyuh.

"Iya, biar kalau Unda kerja terus batuk pakai minyak."

Rindu yang syahdu

Bolehkah aku merindumu?
Bolehkah aku memujamu?
Bolehkah aku mengagumimu?
Bolehkah kujadikan engkau pelita di hatiku?

Wahai, Sang pemilik jagad
Wahai, penguasa langit
Sampaikan salam dan rinduku padanya

Titipan Allah Part 2


Tiap anak punya sejarahnya masing-masing. Bahkan meskipun terlahir dari rahim yang sama, kisah kehamilan bisa berbeda antar anak satu dengan lainnya. Seperti hal nya Agha dan Affan, duo sholihku tersayang yang punya cerita  berbeda di tiap episodenya.

Mereka berdua berjarak 23 bulan, lebih mudah aku menyebutnya selisih dua tahun. Agha terlahir di bulan November, Affan di bukan Oktober dua tahun setelahnya. Cerita tentang kehamilan Agha sudah saya kupas sebelumnya. Kali ini waktunya menceritakan perjalaan sembilan bulan Affan di dalam kandungan.

Minggu, 23 September 2018

Toilet Bau

Deru suara motor ayah memasuki rumah. Adit berlari menyambut ayah dengan kostum rapi, lengkap dengan topi.

"Ayah, Adit sudah siap, ayuk berangkat," ucap Adit sambil bergrlayut manja ke ayahnya.

"Iya, Adit rapi banget, tapi ayahnya masih buluk, ayah siap-siap dulu ya."

"Jangwn lama-lama lho, Adit nggak suka nungguin kelamaan," kata Adit menirukan gaya kalimatku tiap kali menunggu ayahnya.

Ayah tertawa mendengarnya dan berlalu ke kamar mandi.

Weekend ini ayah berjanji mengajak kami jalan-jalan ke Gedung Serba Guna di dekat alun-alun. Ada bazar buku disana. Aku senang sekali menanggapi ajakan ayah.

Sejak pagi aku sengaja merapikan rumah dengan cepat, masak nasi goreng telur kesukaan ayah untuk sarapan dan menyuruh Adit mandi lebih pagi. Urusan cuci mencuci sengaja kutunda besok, agar aku tak terlalu lelah sehingga bisa lebih fit dan fresh.

Gara-Gara Bau

"Huekss, Bau apa ini Ma?" tanya Adit saat kami melintas di lorong lapak pasar tradisional.

"Ssst, jangan keras-keras ngomong kek gitunya," kataku lirih pada Adit.

"Emangnya kenapa Ma, bau apa tho ini Ma?" tanya Adit sekali lagi.

"Ya bau pasar lah Dit, tadi kan Mama sudah bilang, nggak usah ikut."

"Tapi Adit sudah lama sekali nggak pernah ikut Mama ke pasar." bela Adit tak mau disalahkan.

Jumat, 21 September 2018

Langkah Pertama

Mengamati dan turut menstimulasi tumbuh kembang buah hati tentunya menjadi hal yang menyenangkan bagi para oarangtua. Bukan hanya karena amanah sebagai orangtua, tapi hal ini juga bisa menjadi salah satu mood booster dan hiburan di kala penat. Sungguh anak-anak adalah penyejuk hati dan penawar rasa lelah.

Saat ini Adek Affan ada di fase tumbuh kembang di awal usia. Pada tahapan ini Affan masih sangat lucu-lucunya. Tubuhnya padat berisi dan energinya tidak pernah habis. Motorik kasarnya berkembang pesat. Sekarang usianya sebelas bulan, ia mulai bisa berjalan cukup jauh meskipun dengan langkah amat pelan.

Rabu, 19 September 2018

Marah pada Anak

Hampir tiap ibu pernah atau bahkan sering marah pada anaknya. Banyak penyebabnya, bisa karena alasan yang benar-benar prinsip, atau hanya masalah sekecil selilit. Reaksinya pun bermacam-macam. Ada yang suaranya naik beberapa oktaf, ada yang mengomel sepanjang jalan kenangan, bahkan ada yang parah sampai membanting barang, namun masih ada. pula yang cukup beristighfar dan mengelus dada.

Lantas kita masuk contoh yang mana? Semoga pelan tapi pasti kita bisa semakin mengendalikan dan mengatur emosi kita. Saya pernah menulis tulisan singkat sebelumnya untuk mengambil jeda saat kita mulai merasa marah pada anak. Tujuannya apa, agar sebelum kita bereaksi, emosi negatif yang muncul saat marah berkurang dan kita bisa berpikir lebih rasional.

Selasa, 18 September 2018

Cerita tentang Orang China Part 2


Hampir satu bulan ini, hari-hari kami di kantor dipenuhi interaksi dengan teknisi dari China. Dua orang asing yang tak asing lagi. Tak terasa ternyata waktu berjalan teramat cepat. Sudah saatnya para tamu ini kembali ke negri asalnya.

Beberapa hari sebelumnya kami sudah menanyakan ke pihak user terkait kepulangan mereka. Mengingat visa mereka yang hampir habis. Melihat reaksi user yang santai, kami pikir mungkin akan diperpanjang. Hari demi hari pun berlalu, dan kami asik dengan kesibukan lain.

Menjawab Pertanyaan Anak


Apakah anak-anak kalian sudah mulai bertanya macam-macam? Jika jawabannya 'iya' maka sama, Agha pun demikian. Ia mulai bertanya macam-macam yang terkadang membuat dahi ini mengkerut dan bibir mengerucut. Mungkin fitrah belajarnya sudah mulai tumbuh, hingga ia mulai menanyakan tiap hal yang menurutnya aneh atau memang dia tidak tahu dan ingin tahu. Usia Agha saat ini tiga tahun kurang dua bulan. November nanti baru memasuki tahun ketiga usianya. Di tahun ini, rasa ingin tahunya berkembang pesat.

Sebenarnya aku suka sekali tiap Agha menanyakan sesuatu. Apalagi jika aku bisa menjawabnya dengan lancar bak seorang ahli, puas dan bangga sekali rasanya. Ditambah lagi melihat binar mata Agha yang juga puas dengan jawaban bundanya.  Makin mekar hidung ini sangkin senangnya. Mungkin seperti inilah perasaan seorang guru saat menjelaskan kepada anak didiknya yang berbinar-binar.

Minggu, 16 September 2018

Dua Malaikat

Malam kian larut
Rasa ini semakin akut
Berharap gayung bersambut
Dan engkau hadir
Membawa senyummu yang nyinyir

Tlah kusiapkan seember air
Tuk kuserahkan padamu
Agar kau tahu bagaimana rasanya bau anyir

Wahai kau pelaku media
Tidakkah kau tahu
Ada dua malaikat di bahumu
Raqib dan Atid namanya
Perlukah kujelaskan tugas mereka?

Oh, bahkan kau baru tahu namanya dariku?
Sungguh,
Apa saja yang kau lakukan sepanjang hari
Menyebar kebencian?
Memicu masalah?
Menebar fitnah?
Atau jangan-jangan kau hanya bisa membalas komentar orang dengan nyinyir?
Malangnya nasibmu

Sini, mendekatlah
Kubisiki sesuatu tentang dua malaikat di bahumu

Mereka adalah malaikat penulis kisah
Cerita tiap manusia
Untuk nantinya menjadi sejarah
Baik atau burukkah sikap di dunia
Temasuk sikap di sosial media
Jadi tak elok lah kalau kau sholat tiap waktu
Nyatanya tanganmu kau gunakan untuk hal seperti itu

Kami semua sayang padamu,
Karena kami tak mau menjadi korbanmu
Salam dari kami yang mencintaimu.


Meminta Izin Anak


Setelah hari sebelumnya sukses meminta restu dari ayahnya duo sholih untuk dinas luar kota, selanjutnya giliran izin dari duo sholih. Lebih tepatnya mungkin pamit. Kalau Affan belum begitu paham terkait hal ini, tapi Agha sudah mengerti sehingga butuh ekstra strategi agar tujuan bisa tercapai.

Malam hari saat kami bermain bersama, Agha minta dibacakan buku cerita. Saat itulah aku berusaha menyampaikan rencanaku.

Sabtu, 15 September 2018

Ulat Tercantik

Tak tahu siapa awalnya yang memulai, tapi ini benar-benar terjadi. Sederetan ulat sedang berlenggak lenggok dengan gemulai di atas panggung. Panggungnya amat megah, dari gabungan kelopak bunga-bunga langka di negeri rimba. Para penonton yang juga terdiri dari bangsa ulat nampak berkerumun. Mereka menjagokan masing-masing sukunya.

Hari ini adalah babak grand final penentuan ulat tercantik. Julukan yang terlilih nantinya adalah Miss Ulat Rimba 2018. Ajang ini menjadi ajang pertama dan satu-satunya di negeri rimba. Entah jika nantinya akan bermunculan ajang yang serupa di seluruh penjuru rimba. Tak ada yang tahu soal itu. Waktu lah nanti yang akan menjawabnya. Apalagi melihat begitu antusiasnya seluruh bangsa ulat menyanbut pagelaran ini. Beritanya pun sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tanggapuj muncul bermacam-macam, dari mulai pujian sampai sindiran yang mendekati nyinyir. Namun ada juga yang tanggapannya hanya sebatas 'no comment'.

Dilema Ibu Bekerja



Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali sampai di rumah dan berkumpul dengan duo sholih tersayang. Itulah kalimat pertama yang melintas di hati sesaat setelah aku mengucap salam, sekembalinya dari dinas luar kota. Dinas yang tidak hanya memakan pikiran, waktu dan energi, tapi juga hati. Hati seorang ibu yang dibungkus rapi agar tetap terlihat tegar, tangguh dan profesional.

Beberapa hari sebelumnya...
Setelah sekian lama aku selalu berhasil menolak tugas dinas ke luar kota yang mengharuskan aku menginap, kali ini aku tak lagi bisa menolaknya. Tugas ini tidak bisa digantikan atau didelegasikan, harus aku yang berangkat. Meninggalkan duo sholih di usia mereka yang masih batita bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang cukup lama untuk akhirnya aku bisa berdamai dengan tugas ini. Bahkan aku sudah pernah mengundurkan jadwalnya. Mencari ide agar bisa mundur lagi dan lagi rasanya tak elok dan tak etis. Akhirnya dengan berat hati, aku mengiyakannya. Menerima tugas ini. Kalaupun secara hati aku tak menerimanya, tetap saja aku yang berangkat. Jadi lebih baik kudamaikan hati dan kuatur startegi.

Rabu, 12 September 2018

Mengajak Anak Berbicara



Ada yang pernah menginterogasi anak? Seperti apakah reaksinya? Beda anak mungkin berbeda tanggapan. Aku termasuk ibu yang sering melakukan hal ini pada anak, bak wartawan mewawancarai sumber berita. Bersyukur sekali, setelah membaca materi komunikasi produktif kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, pelan-pelan aku mulai merubah polanya, bukan lagi interogasi tapi observasi. Mirip, tapi berbeda. Dan lagi, karena baru tahap awal maka masih banyak yang harus diperbaiki.

Jadi entah kenapa, Agha sangat antipati pada salah satu sepupunya yang berinisial A. Saya sering menanyakannya langsung pada Agha terkait ini, tentunya dengan teknik paparazi. Dan biasanya jawaban Agha hanya sebuah pernyataan bahwa dia tidak suka pada Miss A.

Kali ini, ketika ada kesemptan menanyakan dengan teknik yang lebih halus, maka aku segera mengeksekusinya. Saat kejadian, Agha sedang bermain di teras rumah dengan beberapa buku dan mainannya. Tiba-tiba Miss A datang, hendak ikut main. Melihatnya datang Agha langsung berdiri dan mengusirnya.

Minggu, 09 September 2018

Refleksi Pengalaman



Saat anak GTM (gerakan tutup mulut), para ibu biasanya mulai gegana, gelisah galau merana. Apalagi melihat anak sakit, bukan hanya gegana, tapi gegana plus plus, plus sedih, plus risau, plus khawatir, waswas dan plus plus lainnya. Apapun yang dirasakan, ibu tetap harus setrong, tidak panik dan segera mencari solusi permasalahan. Bisa dengan memberikan ramuan herbal andalan keluarga, memberikan treatment khusus atau membawanya ke dokter untuk pengobatan medis. Sesuaikan dengan keyakinan hati masing-masing. Berikhtiar untuk sembuh dan tetap seiring sejalan dengan berdoa.

Nah, tadi malam, sepupu Agha dibawa ke Rumah Sakit karena diare dan demam tinggi. Karena rumah kami hanya berjarak satu lompatan kaki, maka Agha turut memperhatikan keriwehan orang-orang dewasa yang menyiapkan bekal ke RS. Mbah ibu juga ikut membantu apapun yang bisa dibantu. Dan ternyata fokus Agha adalah mbak Nisrin yang nampak lemas tak bertenaga, digendong oleh ibunya.

Sabtu, 08 September 2018

Menjauhkan Anak dari Gadget



Pagi yang cerah. Matahari bersinar dengan gagah. Ada dua Kupu-kupu hinggap di pohon jeruk di samping rumah. Warnanya kuning dan merah. Birunya langit membuat semarak pagi makin indah. Ah ya, tentu karena hari ini Sabtu, aku di rumah. Jadi seperti apa pun kondisi pagi, aku sambut dengan ramah.

Sabtu ini, permainan yang kurencanakan untuk Agha adalah membuat prakarya dengan menggunting dan menempel kertas. Melatih motorik dan konsentrasinya. Selain itu, aku juga mengagendakan Agha untuk mengamati Bawang merah dan daun bawang yang ditanamnya minggu lalu di plastik bungkus minyak goreng.

Jumat, 07 September 2018

Pasti Bisa


Bagi seorang ibu yang bekerja di ranah publik, saat pulang kerja menjadi momen yang paling ditunggu. Begitu pun aku, senang bukan kepalang. Tentunya karena akan segera bertemu kembali dengan buah hati tersayang.

Dan hari ini momen itu tak kunjung datang. Aku pulang lebih sore dari biasanya. Motor kulajukan dengan kecepatan penuh. Keindahan langit senja dengan warna lembayungnya tak kuhiraukan. Padahal biasanya aku menikmati perjalanan pulang saat melintas di persawahan. Mengagumi ciptaanNya. Menikmati indahnya segerombolan domba yang digembalakan atau padi yang menguning menunggu untuk dipanen. Kali ini fokusku adalah cepat pulang, sampai di rumah dan bertemu dengan duo sholih. Meskipun demikian, saat melewati pasar tiban, kuputuskan untuk membeli kerang hijau siap makan sebagai oleh-oleh untuk Agha dan ayahnya. Setidaknya sebagai ungkapan permohonan maafku yang terlambat pulang.

Sesampai di rumah, Karena Affan sedang asik dengan ayahnya. Aku dan Agha lebih dulu mengeksekusi kerang hijau yang kubawa. Kami pindahkan kerang ke mangkuk agar lebih mudah untuk memakannya. Sayangnya Agha hanya mau kuahnya. Mungkin karena dia kenyang, baru saja selesai makan, sesaat sebelum aku pulang.

Kamis, 06 September 2018

The Power of Comunication


Menjadi ibu dengan dua anak batita adalah sebuah tantangan, apalagi jika menangis bersamaan. Jika tidak bisa mengendalikan emosi, bisa-bisa kemarahan kita turut meramaikan suasana. Dan disinilah serunya menjadi ibu, bukan hanya mengajari anak dengan berbagai hal, tapi juga mengajari diri sendiri. Melatih emosi, memperbaiki komunikasi, menjaga disiplin dan berbagai aspek lain terkait perbaikan diri. 

Nah, sore kemaren, duo sholih tersayang menangis bersamaan saat maghrib datang. Berawal dari Affan yang iseng menggigit mas-nya. Aku kurang cepat melerainya, jadilah Agha yang sakit dengan bekas gigi Affan di tangan menangis dengan kencang. Suaranya menyaingi suara adzan yang mengalun merdu dari mushola di belakang rumah. Saat itu ayahnya belum pulang, untungnya ada mbah ibu yang segera mengambil alih Affan dalam gendongan. Agha ingin membalas Affan tapi dia urung begitu kupeluk, kudekap dan kuajak ngobrol.

Rabu, 05 September 2018

Cerita tentang Orang China part 1

Tiga minggu sudah berlalu sejak kedatangan mereka, para tamu dari China. Mereka adalah teknisi yang dipanggil khusus ke pabrik tempat aku bekerja. Didatangkan secara spesial dari negeri tirai bambu langsung karena harus menangani mesin baru produksi negeri itu juga. Tidak banyak sebenarnya, tiga orang saja. Tapi, pesonanya (ruwet) menghebohkan seluruh penghuni ruangan.

Bagi kami kedatangan mereka ini menarik. Tentu saja karena ini baru pertama kalinya ada orang asing ke pabrik. Apalagi tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama.

Selasa, 04 September 2018

Voucher Belanja 'Iya Boleh' dari Dancow


Beberapa waktu lalu, saat membuka beranda instagram muncullah status dari salah satu produk susu ternama, Dancow. Mereka mengadakan tantangan #IyaBoleh. Temanya kalau tidak salah (karena sudah cukup lama) tentang warna, outdoor dan hewan peliharaan. Tantangannya cukup posting foto terkece anak dengan salah satu tema di atas yang menunjukkan bahwa orangtua mengizinkan mereka bermain dan bereksplorasi. Karena tantangannya mudah, maka dengan mantap saya memutuskan untuk ikut.

Senin, 03 September 2018

Anak Kecil adalah Peniru Terbaik



"Unda, Makan itu duduk, nggak berdiri, apalagi jongkok, jongkok itu pipis sama e'e."

Kalimat itu adalah teguran yang disampaikan Agha, putra sulungku yang usianya baru dua tahun sembilan bulan. Jadi ceritanya aku masih memasak untuk menu makan siang. Karena hampir matang maka aku perlu mengetes rasa. Aku mencicipi masakan dengan sendok kecil dan menumpahkannya di telapak tangan untuk kemudian aku kecap asin, manis pedas dan gurihnya. Ternyata, Agha protes lantaran aku mencicipinya sambil berdiri. Sebenarnya aku ingin protes, cuma nyicipin sedikit. Tapi aku urungkan. Aku cuma bisa nyengir dan salah tingkah menjawab teguran Agha.

"Iya ya, Bunda lupa, terimakasih ya Sayang sudah diingatkan."

Pernah juga ayahnya ditegur karena buru-buru minum sambil berdiri. Agha pun dengan tegas memprotesnya.

"Ayah, minum itu duduk, tidak berdiri kayak embek, sapi sama kebo, hiiii." Agha menegur ayahnya sembari bergidik geli membayangkan hewan yang disebutkan.

Ayahnya cengengesan dan langsung duduk demi memberikan contoh baik pada anak. Aku yang mendengarnya pun tertawa terpingkal-pingkal karena Agha menyamakannya dengan hewan pemakan rumput, tiga sekaligus.

Bermain terencana atau spontan??

Jaman  masih kerja (sekarang cuti hamil), aku seringkali membuat rencana bermain untuk anak terutama saat weekend. Tujuannya agar lebih te...